Transformasi Purwakarta di Era Kepemimpinan Dedi Mulyadi
Ketika membahas perubahan besar di Purwakarta, nama Dedi Mulyadi tidak bisa dilewatkan. Dalam masa kepemimpinannya, Purwakarta mengalami transformasi yang bukan hanya terlihat pada pembangunan fisik, tetapi juga pada karakter budaya, lingkungan, dan pola pikir masyarakatnya. Banyak orang menyebut masa kepemimpinan Dedi sebagai “masa keemasan Purwakarta”, karena daerah yang sebelumnya dianggap biasa saja berubah menjadi kota yang memiliki identitas kuat.
1. Revolusi Tata Kota yang Punya Karakter
Salah satu ciri khas Dedi adalah keberaniannya menjadikan budaya sebagai wajah kota. Purwakarta dibangun bukan sekadar menjadi kota modern, tetapi kota yang punya jiwa. Ia memasukkan unsur seni dan budaya Sunda ke taman kota, pedestrian, patung, gapura, hingga bangunan publik.
Contohnya:
Patung-patung wayang di sudut kota
Gapura megah dengan ornamen tradisional
Taman tematik yang penuh edukasi budaya
Bale Panyawangan yang memadukan teknologi dan sejarah
Kota yang tadinya polos kini punya identitas kuat: Purwakarta yang berbudaya.
2. Menjadikan Purwakarta Kota yang Bersih dan Tertib
Sebelum era Dedi, banyak kawasan kumuh, pasar yang semrawut, dan banyak sampah yang tidak tertangani. Dedi langsung turun tangan:
menata pasar,
menertibkan pedagang kaki lima tanpa kekerasan,
memperbaiki drainase,
menambah fasilitas kebersihan,
dan membuat zona bebas sampah.
Ia tidak hanya memerintah, tetapi ikut turun ke selokan, membantu warga membersihkan sampah, dan memberi edukasi langsung. Gerakan ini membuat warga ikut merasa memiliki tanggung jawab menjaga kampungnya.
3. Program Lingkungan yang Berkelanjutan
Dedi fokus pada:
pemulihan mata air,
penanaman pohon besar-besaran,
perlindungan pohon tua,
penghijauan ruang kota,
dan edukasi lingkungan.
Banyak wilayah yang dulunya gersang kini berubah jadi hijau dan sejuk. Ia juga membiasakan warga mencintai lingkungan, bukan sekadar mengikuti program pemerintah.
4. Pendekatan Humanis dalam Menangani Masyarakat Kecil
Ciri kepemimpinannya paling kuat adalah pendekatannya yang humanis. Ia sering menyelesaikan masalah langsung di lapangan. Dari masalah rumah roboh, warga tidak mampu, pedagang yang kesulitan, hingga konflik sosial.
Ia membangun hubungan emosional dengan warga, membuat mereka merasa pemimpinnya hadir bukan hanya saat kampanye.
5. Kemajuan Pariwisata yang Pesat
Di era Dedi, Purwakarta mendadak jadi kota tujuan wisata. Beberapa ikon yang sangat dikenal:
Taman Air Mancur Sri Baduga (salah satu yang terbesar di Asia Tenggara),
Waduk Jatiluhur yang dikembangkan sebagai destinasi alam,
kuliner khas Sunda yang diangkat kembali,
tata kota malam hari yang artistik.
Hal ini membuat Purwakarta sering menjadi destinasi akhir pekan bagi wisatawan dari Jabodetabek, Bandung, hingga luar daerah.
6. Mengubah Mentalitas: Dari Biasa Menjadi Luar Biasa
Inilah kontribusi paling besar: mengubah cara berpikir masyarakatnya. Di era Dedi, warga mulai bangga dengan kotanya, menjaga lingkungan, dan terlibat aktif dalam pembangunan. Ia berhasil menanamkan bahwa daerah kecil sekalipun bisa maju asalkan punya arah dan karakter.

