Di sudut jalan yang ramai, seorang anak punk bertato duduk santai di trotoar sambil memandang lalu-lalang kendaraan. Penampilannya mencolok—rambut berwarna, pakaian lusuh, dan tubuh penuh tato yang menggambarkan perjalanan hidupnya yang keras. Di tengah situasi itu, tokoh Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menghampiri dan melakukan dialog langsung tanpa jarak, tanpa sekat, dan tanpa penilaian awal. Percakapan … Continue reading Tato dan Penyesalan: KDM Dialog dengan Anak Punk Bertato: “Seni Boleh, Tapi Jangan Lupakan Kewajiban pada Orang Tua.”
Copy and paste this URL into your WordPress site to embed
Copy and paste this code into your site to embed