Kang Dedi Mulyadi (KDM) dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat dan peduli pada isu sosial. Namun, ada sisi lain yang sering menjadi perhatian publik: komitmennya terhadap pelestarian tradisi dan budaya, terutama budaya Sunda, di tengah arus modernisasi yang semakin cepat.
Menghidupkan Tradisi di Era Modern
Di tengah perkembangan teknologi dan modernisasi, banyak tradisi mulai terlupakan. KDM konsisten menunjukkan bahwa modernitas tidak harus membuat budaya pudar.
Ia aktif mempromosikan kesenian lokal, seperti wayang golek, jaipongan, dan upacara adat Sunda.
Di setiap kunjungannya, ia selalu mengingatkan masyarakat untuk menjaga budaya agar tidak hilang dari generasi muda.
Pendekatan ini mengajarkan bahwa budaya adalah identitas, bukan beban, dan bisa tetap relevan di era modern.
Menjaga Bahasa dan Nilai Sunda
Selain seni, KDM menekankan pentingnya bahasa dan nilai-nilai Sunda:
Sopan santun, gotong royong, dan rasa hormat kepada orang tua menjadi fondasi dalam interaksi sehari-hari.
Ia sering menggunakan bahasa Sunda dalam komunikasi sehari-hari, bahkan di media sosial, agar generasi muda tetap mengenal akar budaya mereka.
Modernisasi dengan Sentuhan Kearifan Lokal
KDM menunjukkan bahwa modernisasi tidak harus meninggalkan tradisi.
Ia mendorong inovasi di bidang pendidikan, teknologi, dan pembangunan infrastruktur, tetapi tetap berbasis nilai lokal.
Contohnya, pembangunan fasilitas umum yang ramah lingkungan dan menyesuaikan dengan karakter desa.
Pendekatan ini membuat modernisasi terasa alami dan diterima masyarakat, tanpa menghapus identitas lokal.
Mendorong Generasi Muda Mengenal Budaya
Salah satu misi KDM adalah mengajak generasi muda untuk menghargai budaya:
Melalui konten edukatif di media sosial, ia memperkenalkan sejarah, seni, dan tradisi Sunda.
Ia juga mengadakan kegiatan yang melibatkan anak muda, seperti lomba kesenian, workshop budaya, dan kegiatan gotong royong.
Dengan cara ini, budaya lokal tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dicintai oleh generasi penerus.
Kesimpulan
Sisi lain Kang Dedi Mulyadi menunjukkan bahwa seorang pemimpin bisa menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas.
Komitmennya terhadap budaya, kesenian, dan nilai-nilai lokal membuktikan bahwa modernisasi dan pelestarian budaya bisa berjalan seiring. KDM menjadi contoh nyata bahwa kepedulian terhadap budaya adalah bagian dari kepemimpinan yang bijak dan berkelanjutan.

