Dedi Mulyadi adalah salah satu tokoh publik yang paling konsisten mengangkat nilai-nilai kearifan lokal, terutama budaya Sunda, dalam setiap langkah dan kebijakannya. Baginya, budaya bukan sekadar simbol atau seremonial, tetapi identitas yang harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat. Inilah beberapa wujud nyata bagaimana kearifan lokal membentuk gaya kepemimpinan Dedi.
1. Menghidupkan Simbol-Simbol Sunda
Dalam banyak kebijakan dan kegiatan, Dedi selalu memasukkan unsur budaya Sunda. Mulai dari arsitektur bangunan, ornamen ruang publik, patung wayang, hingga aksen-aksen tradisi yang tampak dalam tata kota Purwakarta. Tujuannya sederhana: membuat masyarakat merasakan bahwa budaya mereka dihormati dan diapresiasi.
Menurutnya, daerah yang kehilangan budayanya akan kehilangan jati dirinya.
2. Menggunakan Bahasa Sunda Sebagai Bahasa Kedekatan
Dalam setiap pertemuan dengan warga, Dedi menggunakan bahasa Sunda loma. Konsep ini bukan sekadar pemakaian bahasa, tetapi cara untuk menurunkan jarak antara pemimpin dengan rakyat.
Dengan bahasa Sunda:
warga merasa lebih nyaman,
komunikasi lebih cair,
pesan lebih mudah diterima.
Dedi paham bahwa bahasa daerah memiliki kekuatan emosional yang tidak dimiliki bahasa formal.
3. Menjaga Tradisi Gotong Royong
Gotong royong adalah inti dari kehidupan desa. Dedi membangkitkan lagi praktik ini dalam pembangunan desa, pengelolaan lingkungan, hingga penanganan masalah sosial. Ia sering mengajak warga kerja bakti bersama, termasuk saat membersihkan lingkungan, memperbaiki rumah warga tak mampu, hingga merawat tempat umum.
Ia percaya pembangunan sejati bukan sekadar proyek, tetapi kesadaran kolektif.
4. Menghidupkan Seni dan Ritual Lokal
Dedi selalu memberi ruang bagi seni daerah seperti:
jaipongan,
rampak kendang,
wayang golek,
debus,
helaran budaya.
Event budaya rutin digelar untuk menjaga seni tradisional tetap hidup dan dikenal generasi muda. Tidak jarang, ia hadir langsung, menonton, bahkan ikut terlibat untuk memberi semangat kepada para pelaku seni.
5. Menjadikan Pemimpin Sebagai “Inohong”
Dalam konsep Sunda, inohong adalah tokoh sentral yang dihormati karena sikap dan keteladanannya. Dedi berusaha menjaga hal ini lewat:
sikap yang santun,
cara bicara yang sopan,
menghargai tua-muda,
tidak meninggikan diri.
Ia memahami bahwa pemimpin Sunda dihormati bukan karena jabatan, tetapi karena akhlak dan budi pekerti.
6. Menggunakan Falsafah Sunda dalam Pengambilan Kebijakan
Banyak prinsip budaya yang ia terapkan dalam memutuskan kebijakan, seperti:
someah hade ka semah — ramah pada semua tamu,
silih asah, silih asih, silih asuh — saling menguatkan dan menjaga,
ngajaga lembur — menjaga kampung dan lingkungan.
Dengan memegang falsafah ini, kebijakannya terasa lebih manusiawi dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
7. Mendudukkan Budaya Sebagai Arah Peradaban
Bagi Dedi, pembangunan tanpa budaya akan menciptakan masyarakat modern yang kehilangan karakter. Karena itu ia selalu menegaskan bahwa:
budaya harus menjadi akar,
pembangunan fisik hanyalah batang,
dan kesejahteraan rakyat adalah buahnya.
Inilah alasan mengapa banyak orang menilai kepemimpinan Dedi memiliki “rasa” yang berbeda: modern, tetapi tetap memiliki akar kuat pada nilai-nilai leluhur.

