
Suasana berubah haru ketika seorang anak yatim piatu berdiri dengan mata berkaca-kaca. Ia bercerita tentang kesulitan biaya sekolah dan keinginannya untuk tetap belajar. Di momen seperti itu, Dedi Mulyadi kerap mengambil keputusan spontan namun penuh makna: menjadikan anak tersebut sebagai anak asuh dan menanggung biaya pendidikannya.
Aksi seperti ini kemudian dikenal luas dalam narasi KDM Bantu Anak Yatim — bukan sekadar simpati, tetapi komitmen jangka panjang terhadap masa depan anak.
Pendidikan sebagai Jalan Keluar Kemiskinan
Bagi anak yatim piatu, tantangan bukan hanya kehilangan orang tua, tetapi juga kehilangan penopang ekonomi dan motivasi. Tanpa intervensi, banyak yang terpaksa putus sekolah.
Karena itu, dukungan pendidikan menjadi kunci agar mereka:
-
Tetap melanjutkan sekolah
-
Memiliki peluang kerja lebih baik
-
Tidak terjebak dalam lingkaran kemiskinan
Namun tentu tidak semua kasus langsung diputuskan untuk dibiayai. Ada pertimbangan yang menjadi dasar.
Kriteria yang Menjadi Pertimbangan
Menjawab pertanyaan: Kriteria apa yang membuat KDM memutuskan untuk membiayai pendidikan seorang anak hingga ke jenjang yang lebih tinggi?
Berikut beberapa faktor utama yang biasanya menjadi perhatian:
1. Kondisi Yatim Piatu atau Sangat Rentan
Anak yang benar-benar tidak memiliki orang tua, atau hidup dalam kondisi sangat tidak mampu tanpa penopang ekonomi, menjadi prioritas utama.
Fokusnya adalah pada mereka yang paling membutuhkan.
2. Kesungguhan dan Semangat Belajar
Bukan hanya soal kemiskinan, tetapi juga kemauan. Anak yang menunjukkan tekad kuat untuk sekolah, memiliki cita-cita jelas, dan tetap berusaha meski dalam keterbatasan, biasanya lebih diprioritaskan.
Semangat adalah modal penting untuk investasi pendidikan jangka panjang.
3. Prestasi atau Potensi
Prestasi akademik maupun non-akademik menjadi nilai tambah. Namun bukan berarti hanya yang berprestasi tinggi yang dibantu. Potensi dan bakat juga dipertimbangkan.
Jika ada bakat yang bisa dikembangkan, dukungan pendidikan akan lebih berdampak.
4. Rekomendasi dan Validasi Lingkungan
Keputusan tidak semata berdasarkan cerita sesaat. Biasanya ada konfirmasi dari:
-
Perangkat desa
-
Sekolah
-
Tokoh masyarakat
Validasi ini memastikan bantuan tepat sasaran dan benar-benar dibutuhkan.
5. Komitmen Jangka Panjang
Membiayai pendidikan bukan keputusan ringan. Artinya ada komitmen hingga jenjang tertentu, bisa sampai SMA bahkan perguruan tinggi.
Karena itu, dipastikan anak tersebut memiliki kesiapan mental untuk menjalani proses panjang tersebut.
Bukan Sekadar Bantuan, Tapi Tanggung Jawab
Pendekatan KDM Bantu Anak Yatim menunjukkan bahwa bantuan pendidikan bukan hanya soal membayar SPP. Itu tentang memastikan anak memiliki pendampingan moral, motivasi, dan perhatian.
Kalimat “kamu tidak sendiri” adalah fondasi psikologis yang penting. Anak yang merasa didukung cenderung lebih percaya diri dan berani bermimpi lebih besar.
Kesimpulan
Keputusan membiayai pendidikan anak yatim tidak dilakukan secara sembarangan. Kriteria utamanya meliputi kondisi ekonomi yang sangat rentan, semangat belajar yang kuat, potensi atau prestasi, validasi lingkungan, serta kesiapan menjalani komitmen jangka panjang.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang hari ini.
Ia adalah investasi masa depan.
Dan bagi seorang anak yatim piatu, satu keputusan untuk membiayai sekolah bisa mengubah seluruh arah hidupnya.
Baca juga artikel sebelumnya!
Aksi KDM Cegat Mobil Lawan Arus: “Jangan Mau Cepat Tapi Nyawa Orang Lain Jadi Taruhannya!”

