spot_img
Tuesday, February 10, 2026
More
    spot_img
    HomeArtikelMenyentuh Tanpa Menghakimi: Pendekatan Persuasif KDM dalam Merawat ODGJ di Ruang Publik

    Menyentuh Tanpa Menghakimi: Pendekatan Persuasif KDM dalam Merawat ODGJ di Ruang Publik

    -

    Di tengah hiruk-pikuk jalanan, ada kelompok warga yang sering terlihat tapi jarang benar-benar dilihat: orang dengan gangguan jiwa. Mereka bukan sekadar “pemandangan sosial”, melainkan manusia dengan sejarah, trauma, dan kebutuhan yang sering diabaikan.

    Ketika KDM mendekati seorang ODGJ di pinggir jalan, momen itu bukan hanya aksi spontan yang viral. Ia memperlihatkan satu hal penting: pendekatan kemanusiaan selalu dimulai dari rasa aman.

    Karena bagi seseorang yang hidup lama dalam ketakutan dan penolakan, kepercayaan adalah sesuatu yang mahal.

    Pendekatan pertama bukan tindakan. Pendekatan pertama adalah sikap.

    Menciptakan Rasa Aman Sebelum Memberi Bantuan

    ODGJ yang hidup di ruang publik sering mengalami kekerasan verbal, pengusiran, bahkan perlakuan kasar. Tubuh mereka belajar satu refleks utama: waspada.

    Pendekatan persuasif KDM dimulai dari bahasa tubuh yang rendah ancaman. Tidak berdiri mengintimidasi. Tidak berbicara keras. Tidak menyentuh secara tiba-tiba.

    Ia menurunkan posisi tubuh sejajar, menjaga jarak aman, dan menggunakan suara yang lembut. Ini bukan teknik dramatis. Ini komunikasi dasar yang menghormati batas psikologis seseorang.

    Rasa aman membuka pintu komunikasi.

    Tanpa rasa aman, bantuan terasa seperti ancaman.

    Komunikasi Sederhana yang Tidak Menggurui

    Orang dengan gangguan jiwa tetap mampu menangkap emosi dalam suara. Mereka mungkin kesulitan memproses logika kompleks, tapi kehangatan terasa jelas.

    KDM menggunakan kalimat pendek, nada stabil, dan pengulangan lembut. Tidak memaksa jawaban. Tidak memojokkan dengan pertanyaan.

    Pendekatan ini penting karena komunikasi persuasif bukan soal meyakinkan secara cepat. Ini soal membangun ritme interaksi yang bisa diikuti oleh lawan bicara.

    Kesabaran adalah bahasa universal.

    Ketika seseorang merasa tidak ditekan, resistensi menurun dengan sendirinya.

    Sentuhan sebagai Simbol Kepercayaan

    Dalam konteks yang tepat, sentuhan bisa menjadi sinyal penerimaan sosial. Tapi sentuhan hanya dilakukan setelah ada respons positif.

    KDM tidak langsung memandikan atau mencukur. Ia menunggu tanda-tanda kesiapan: kontak mata, anggukan kecil, atau tubuh yang tidak lagi tegang.

    Ini menunjukkan bahwa bantuan bukan paksaan. Ia adalah kerja sama.

    Perbedaan antara merawat dan mengontrol terletak pada persetujuan.

    Mengembalikan Martabat, Bukan Sekadar Membersihkan Tubuh

    Tindakan memandikan ODGJ bukan hanya soal kebersihan. Ia adalah simbol pengembalian martabat. Pesan yang disampaikan sederhana: kamu layak dirawat.

    Banyak ODGJ kehilangan identitas sosial karena lama hidup di jalan. Perawatan fisik menjadi langkah awal rekonstruksi harga diri.

    Pendekatan persuasif berhasil karena fokusnya bukan pada “menertibkan”, melainkan memulihkan.

    Rehabilitasi dimulai dari rasa dihargai.

    Peran Empati dalam Kepemimpinan Sosial

    KDM memperlihatkan bahwa kepemimpinan sosial bukan selalu tentang kebijakan besar. Kadang ia hadir dalam tindakan kecil yang konsisten memanusiakan orang.

    Empati bukan kelembutan yang lemah. Empati adalah keberanian untuk mendekat ketika orang lain memilih menjauh.

    Dan dalam kasus ODGJ, keberanian mendekat sering menjadi perbedaan antara pengabaian dan penyelamatan.

    FAQ

    Bagaimana cara pendekatan persuasif KDM agar penderita gangguan jiwa mau diajak berkomunikasi dan tidak merasa takut?

    Pendekatannya berlapis: menciptakan rasa aman lewat bahasa tubuh non-ancaman, berbicara dengan suara lembut dan kalimat sederhana, menjaga jarak psikologis, serta membangun kepercayaan sebelum melakukan sentuhan fisik.

    KDM tidak memaksa interaksi. Ia membaca respons emosional penderita, menunggu kesiapan, dan menjadikan bantuan sebagai kerja sama, bukan kontrol. Prinsip utamanya adalah menghormati martabat individu, sehingga penderita merasa diterima, bukan ditangani sebagai objek.

    Penutup

    Cara sebuah masyarakat memperlakukan kelompok paling rentan menunjukkan kualitas moralnya. ODGJ bukan masalah yang harus disembunyikan. Mereka adalah warga yang membutuhkan pendekatan berbeda.

    Pendekatan persuasif yang humanis mengingatkan kita bahwa bantuan terbaik bukan yang paling cepat, tapi yang paling menghormati manusia di dalamnya.

    Karena sebelum seseorang bisa disembuhkan, ia harus merasa aman untuk dipercaya.

    Dan rasa aman selalu dimulai dari satu hal sederhana: diperlakukan sebagai manusia.

    Baca juga artikel sebelumnya!

    Kantor Kosong, Rakyat Menunggu: Ketika Teguran KDM Menjadi Cermin Disiplin Aparatur

    Related articles

    Stay Connected

    0FansLike
    0FollowersFollow
    0FollowersFollow
    0SubscribersSubscribe
    spot_img

    Latest posts