Tak ada tokoh besar tanpa kontroversi, begitu pula Dedi Mulyadi. Namanya sering bersinar karena aksi kemanusiaan, tetapi juga tak lepas dari kritik dan perdebatan. Bab ini membahas sisi lain yang sering jadi bahan pembicaraan publik.
1. Tuduhan Eksploitasi Kemiskinan
Salah satu kritik terbesar yang dialamatkan kepadanya adalah soal eksploitasi warga miskin untuk konten. Beberapa pihak menilai bahwa proses perekaman kondisi warga yang sedang kesulitan dapat dianggap merendahkan martabat mereka dan digunakan sebagai bahan konsumsi publik.
Namun banyak juga yang membantah:
warga yang dibantu justru mendapatkan solusi nyata,
publik jadi lebih peka terhadap masalah sosial,
dan kontennya menjadi penghubung bantuan dari masyarakat.
Perdebatan ini masih terus berlangsung hingga sekarang.
2. Hubungan dengan Pemda dan Politik Lokal
Sebagai mantan Bupati Purwakarta, Dedi memiliki riwayat konflik politik dengan beberapa tokoh di Jawa Barat. Ia dikenal tegas, sering berbeda pendapat, dan tidak segan mengkritik sistem birokrasi yang dianggap tidak memihak rakyat.
Karena itu:
sebagian pejabat tidak menyukainya,
tapi sebagian masyarakat justru makin mendukungnya.
Sosoknya berada di persimpangan antara populis dan reformis.
3. Kasus Perceraian yang Viral
Perceraian Dedi dengan Anne Ratna Mustika sempat menjadi konsumsi publik. Banyak media yang menyoroti perpisahan mereka dari sisi sensasional, bukan dari sisi kemanusiaan.
Dampaknya:
nama Dedi semakin ramai diperbincangkan,
sebagian publik berspekulasi,
tapi Dedi sendiri memilih tetap fokus pada aktivitas sosial.
Kasus ini menunjukkan bahwa popularitas selalu punya dua sisi: sorotan dan tekanan.
4. Kritik dari Aktivis Seni & Budaya
Dedi sering mengangkat budaya Sunda dalam setiap aktivitasnya. Namun ada kalangan budayawan yang menganggap pendekatan itu terlalu simbolik dan tidak menyentuh persoalan struktural pelestarian budaya.
Tetap saja, ia diakui sebagai tokoh yang paling sering mengangkat nilai lokal Sunda ke ruang publik digital.
5. Ketidakhadiran di Panggung Politik Formal
Meskipun punya basis massa kuat, banyak pihak bertanya mengapa Dedi tidak tampil kembali sebagai kandidat kuat di pemilu terakhir. Ada yang menyebut ia “dipinggirkan”, ada yang menyebut ia memilih jalur sosial daripada politik.
Namun keputusan itu justru memperkuat citranya sebagai tokoh yang dekat dengan rakyat, bukan sekadar politisi.

