
Di tengah arus modernisasi yang pesat, banyak nilai budaya dan tradisi lokal perlahan memudar. Namun, Dedi Mulyadi hadir sebagai sosok yang konsisten menjaga, merawat, dan mempopulerkan kembali tradisi masyarakat Sunda. Baginya, modernisasi bukan berarti meninggalkan akar budaya, tetapi justru menguatkan identitas dengan cara yang lebih relevan.
1. Menjadikan Tradisi sebagai Identitas Kepemimpinan
Selama menjabat sebagai Bupati Purwakarta, Dedi menghidupkan kembali berbagai tradisi lokal. Ia mengintegrasikan unsur budaya Sunda pada pembangunan ruang publik, arsitektur, hingga program pendidikan. Tujuannya sederhana: agar generasi muda tetap mengenal nilai-nilai leluhur di tengah perubahan zaman.
2. Mengangkat Kearifan Lokal Lewat Kegiatan Masyarakat
Upacara adat, seni tradisional, hingga kebiasaan gotong royong kembali digalakkan. Dedi percaya bahwa kegiatan budaya bukan sekadar acara seremonial, tetapi wadah untuk mempererat hubungan sosial dan memperkuat karakter masyarakat. Program ini terbukti membuat masyarakat merasa lebih bangga terhadap daerahnya sendiri.
3. Memperkenalkan Tradisi Sunda ke Audiens Nasional
Lewat media sosial dan konten digital, Dedi sering mengangkat budaya Sunda, mulai dari bahasa, pakaian, hingga filosofi hidup. Gaya penyampaian yang sederhana membuat banyak orang di luar Jawa Barat ikut mengenal keindahan budaya Sunda. Ia berhasil menunjukkan bahwa tradisi lokal bisa disajikan secara menarik tanpa kehilangan esensinya.
4. Adaptasi Tradisi dengan Cara Modern
Dedi tidak kaku dalam menjaga tradisi. Ia justru kreatif menggabungkan budaya dengan elemen modern, seperti seni instalasi, taman tematik, dan desain kota bernuansa etnik. Pendekatan ini membuat budaya tetap hidup dan dicintai anak muda, bukan hanya orang tua.
5. Bukti Konsistensi yang Tak Pernah Pudar
Meski kini aktif sebagai tokoh publik di luar jabatan pemerintahan, Dedi tetap membawa budaya Sunda sebagai nafas aktivitasnya. Baik ketika menengok warga, menyelesaikan problem sosial, maupun membuat konten, ia selalu menyelipkan nilai-nilai lokal sebagai pengingat bahwa karakter manusia tidak boleh jauh dari akarnya.

