Di dunia politik yang penuh pencitraan, ketulusan adalah barang langka. Banyak bantuan yang dilakukan hanya untuk kamera, hanya untuk konten, atau hanya untuk meningkatkan popularitas. Namun, Dedi Mulyadi membawa warna berbeda. Ketulusannya dalam membantu warga sering kali terlihat jelas, bahkan ketika tidak ada media atau kamera yang merekam. Inilah yang membuat sosoknya begitu dihormati.
1. Membantu Tanpa Menunggu Sorotan Publik
Dedi tidak pernah menunggu momen tertentu untuk turun ke masyarakat. Jika ada warga yang membutuhkan, ia datang, apa pun waktunya. Banyak kisah ketika ia membantu warga tanpa satu pun dokumentasi. Orang lain yang justru bercerita, bukan ia sendiri. Ini bukti bahwa bantuan itu bukan untuk dipamerkan.
2. Tidak Pernah Mengklaim Kebaikan sebagai Prestasi
Ketika berhasil menyelesaikan masalah warga, Dedi tidak menjadikannya sebagai bahan promosi politik. Ia tidak membuat brosur, tidak membuat baliho, tidak membuat klaim bahwa itu “keberhasilannya”. Baginya, menolong orang adalah tanggung jawab moral, bukan ajang pencapaian.
3. Rela Mendengar Cerita Hidup Warga Tanpa Batasan Waktu
Salah satu bentuk ketulusan yang sulit ditiru adalah kesediaannya mendengarkan. Ia bisa duduk berjam-jam mendengar keluh kesah warga tanpa terlihat bosan. Ia percaya bahwa perhatian tulus kadang jauh lebih berharga daripada bantuan materi.
4. Tidak Membeda-bedakan Siapa yang Dibantu
Bagi Dedi, semua warga sama. Ia tidak peduli status ekonomi, pilihan politik, atau latar belakang seseorang. Ia membantu siapa pun yang membutuhkan. Sikap ini memperlihatkan bahwa hatinya bekerja, bukan ambisinya.
5. Menolong dengan Caranya Sendiri, Bukan dengan Gaya Seremonial
Banyak pejabat yang menyalurkan bantuan dengan upacara resmi. Berbeda dengan Dedi, yang langsung memberikan bantuan di tempat, sambil ngobrol dan memastikan warga tidak merasa canggung. Kesederhanaan ini membuat bantuan terasa lebih hangat.
6. Tidak Menuntut Balasan atau Pengakuan
Setelah membantu, Dedi tidak pernah meminta warga berbuat apa-apa sebagai balasan. Tidak meminta dukungan politik, tidak meminta pujian, bahkan sering tidak membiarkan warga merasa “berutang budi”. Ia selalu mengatakan, “Yang penting kamu bisa hidup lebih baik.” Kalimat sederhana namun penuh arti.
7. Ketulusan yang Konsisten Bertahun-Tahun
Yang membuat banyak orang percaya bahwa ketulusannya nyata adalah konsistensinya. Dari dulu hingga sekarang, ketika jabatannya berubah, popularitas naik-turun, atau situasi politik bergejolak—Dedi tetap menjadi sosok yang sama: membantu dengan hati, bukan untuk kamera.
Ketulusan seperti ini jarang ditemui. Di antara banyak tokoh publik yang membantu demi citra, Dedi Mulyadi berdiri sebagai sosok yang benar-benar melayani. Dan justru karena ia tidak mencari sorotan, sorotan itu datang dengan sendirinya.

