Tidak semua pemimpin mampu melihat masalah kecil sebelum menjadi besar. Banyak yang hanya fokus pada program besar, anggaran besar, dan proyek besar. Namun, Dedi Mulyadi memiliki kemampuan yang berbeda: ia peka terhadap hal-hal yang terlihat sepele, tetapi sebenarnya sangat penting bagi kehidupan masyarakat. Kepekaan sosial inilah yang membuatnya dicintai banyak orang.
1. Menyadari Masalah yang Tidak “Viral” Sekalipun
Di era sekarang, pejabat lebih sering bergerak setelah masalah viral. Tapi Dedi bergerak justru sebelum hal itu terjadi. Ketika melihat rumah warga yang hampir roboh, anak yang putus sekolah, nenek yang hidup sendirian, pedagang kecil yang hampir gulung tikar—ia langsung turun tangan tanpa harus menunggu perhatian publik.
2. Peka terhadap Warga yang Tak Berani Mengadu
Tidak semua orang berani minta bantuan. Ada yang malu, takut, atau merasa tidak pantas. Dedi memiliki kepekaan untuk membaca situasi tersebut. Bahkan ketika warga tidak meminta, ia datang membawa bantuan, solusi, atau sekadar perhatian. Sering kali, ia menyadari masalah hanya dari sikap tubuh atau raut wajah warga.
3. Melihat Warga sebagai Individu, Bukan Angka Statistik
Bagi banyak pemimpin, data adalah segalanya. Namun bagi Dedi, setiap warga adalah manusia dengan cerita hidup masing-masing. Ia menyapa satu per satu, menanyakan nama, pekerjaan, kondisi keluarga, hingga impian mereka. Pendekatan personal ini membuat warga merasa dihargai dan tidak sekadar menjadi angka dalam laporan.
4. Mengubah Masalah Kecil Menjadi Solusi Besar
Masalah kecil sering kali memiliki dampak besar jika mendapatkan penanganan tepat. Misalnya: pedagang yang kesulitan modal bisa bangkit jika dibantu sedikit; anak yang hampir putus sekolah bisa berhasil jika diberi semangat dan kebutuhan belajar. Dedi melihat potensi positif dari setiap tindakan kecil yang dilakukan dengan tulus.
5. Menghadirkan Bantuan Spesifik, Bukan Bantuan Seragam
Banyak pemimpin memberikan bantuan dengan pola yang sama untuk semua orang. Dedi justru menyesuaikan bantuan berdasarkan kebutuhan individual: modal untuk pedagang, alat sekolah untuk anak-anak, perbaikan rumah, bahkan dukungan moral untuk mereka yang sedang depresi. Bantuan seperti ini terasa jauh lebih berharga.
6. Konsisten Mempertahankan Kepekaan Itu
Kepekaan sosial bukan perkara mudah. Banyak yang awalnya peka, tetapi lama-lama hilang karena jabatan. Namun Dedi tetap sama sejak dulu: mudah tersentuh, mudah peduli, dan mudah memahami kesulitan orang lain. Ia melihat dengan hati, bukan hanya mata.
Kepekaan sosial seperti inilah yang membuat Dedi Mulyadi menjadi sosok pemimpin yang selalu dirindukan kehadirannya. Ia hadir bukan hanya sebagai tokoh terkenal, tetapi sebagai manusia yang mampu merasakan apa y
ang rakyat rasakan.

