Tumpukan ijazah itu tersusun rapi di dalam map plastik. Lulusan SMK, nilai cukup baik, tetapi belum juga bekerja. Pemandangan seperti inilah yang membuat Dedi Mulyadi merasa miris. Sekolah kejuruan yang seharusnya mencetak tenaga siap kerja justru menyumbang angka pengangguran.
Isu ini kemudian ramai diperbincangkan dengan tajuk KDM Solusi Pengangguran SMK, terutama ketika ia langsung menawarkan skema magang di perusahaan rekanan sebagai solusi cepat bagi lulusan yang belum terserap industri.
Namun di balik aksi itu, ada pesan yang jauh lebih dalam dan menohok.
Ijazah Bukan Jaminan Kompetensi
Menurut KDM, ijazah hanyalah bukti pernah sekolah, bukan bukti siap kerja. Dunia industri tidak hanya melihat nilai rapor, tetapi keterampilan nyata:
-
Kemampuan teknis sesuai jurusan
-
Disiplin dan etos kerja
-
Kemampuan komunikasi
-
Adaptasi dengan teknologi terbaru
Jika lulusan SMK masih harus diajari dari nol oleh perusahaan, berarti ada yang tidak sinkron antara sekolah dan kebutuhan industri.
Pesan Menohok untuk Sekolah
Menjawab pertanyaan: Apa pesan menohok KDM untuk sekolah-sekolah yang hanya meluluskan siswa tanpa membekali keahlian praktis yang dibutuhkan industri?
Pesan intinya tegas:
“Jangan bangga meluluskan banyak siswa kalau mereka akhirnya menganggur.”
Sekolah, khususnya SMK, tidak boleh sekadar mengejar angka kelulusan 100%. Yang lebih penting adalah angka penyerapan kerja. Jika lulusan tidak memiliki keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan industri, maka sistem pendidikannya perlu dievaluasi.
Sekolah diminta untuk:
-
Memperkuat praktik dibanding teori
-
Memperbarui kurikulum sesuai kebutuhan industri lokal
-
Membangun kerja sama nyata dengan perusahaan
-
Mengadakan program magang wajib dan terarah
Sinkronisasi dengan Dunia Industri
KDM menekankan pentingnya “link and match” antara sekolah dan industri. Artinya:
-
Jurusan dibuka berdasarkan kebutuhan pasar kerja
-
Perusahaan dilibatkan dalam penyusunan kurikulum
-
Guru mendapatkan pelatihan industri terbaru
-
Siswa magang di tempat yang benar-benar relevan
Tanpa kolaborasi ini, SMK hanya menjadi pabrik ijazah.
Magang sebagai Jembatan, Bukan Formalitas
Ketika menawarkan magang di perusahaan rekanan, pendekatannya bukan sekadar formalitas tanda tangan kerja sama. Magang harus:
-
Memberi pengalaman kerja nyata
-
Melatih kedisiplinan industri
-
Membuka peluang rekrutmen langsung
Dengan begitu, siswa tidak lulus dalam kondisi “buta industri”.
Mentalitas Siap Kerja
Selain keterampilan teknis, ada satu hal yang sering disoroti: mentalitas.
Banyak lulusan belum siap menghadapi ritme kerja yang disiplin dan kompetitif. Karena itu, sekolah juga perlu menanamkan:
-
Tanggung jawab
-
Ketepatan waktu
-
Ketahanan menghadapi tekanan
-
Kemampuan bekerja dalam tim
Dunia kerja tidak hanya soal kemampuan mesin atau komputer, tetapi juga sikap.
Kesimpulan
KDM Solusi Pengangguran SMK bukan hanya soal menyediakan magang, tetapi membenahi sistem pendidikan kejuruan secara menyeluruh. Pesan menohoknya jelas: sekolah tidak boleh puas hanya meluluskan siswa, tetapi harus memastikan mereka memiliki keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan industri.
Ijazah tanpa kompetensi adalah kertas.
Kompetensi tanpa ijazah masih bisa dihargai.
Yang dibutuhkan hari ini bukan sekadar lulusan, tetapi tenaga kerja yang benar-benar siap.
Baca juga artikel sebelumnya!
Parkir Bukan Ladang Pungli: Saat KDM Tegas Benahi Sistem dan Lindungi Wisatawan

