Kang Dedi Mulyadi (KDM) tidak hanya dikenal sebagai tokoh yang dekat dengan rakyat kecil, tetapi juga sebagai sosok yang memelihara dan menghidupkan nilai-nilai budaya Sunda dalam setiap langkahnya. Filosofi hidup Sunda yang ia pegang teguh bukan sekadar simbol budaya, tetapi menjadi fondasi dalam setiap tindakan, keputusan, dan perhatiannya terhadap masyarakat.
Hirup Sauyunan: Hidup dalam Kebersamaan
Salah satu nilai yang paling sering ditunjukkan KDM adalah sauyunan—hidup saling membantu, bekerja bersama, dan menjaga keharmonisan.
Dalam setiap kunjungannya, KDM selalu mendorong warga untuk menghidupkan kembali budaya gotong royong, terutama di desa-desa yang mulai kehilangan tradisi kebersamaan akibat modernisasi.
Ia percaya bahwa perubahan besar hanya bisa terjadi ketika masyarakat bergerak bersama, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Kesederhanaan sebagai Identitas
Budaya Sunda menjunjung tinggi kesederhanaan, dan hal ini tampak jelas dalam gaya hidup KDM.
Ia tidak pernah tampil mewah atau menunjukkan jarak sebagai pejabat. Pakaian sederhana, bahasa yang halus, dan sikap sopan menjadi ciri khas yang membuatnya mudah diterima berbagai kalangan.
Kesederhanaan ini bukan pencitraan, tetapi bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur Sunda yang mengajarkan bahwa kemuliaan tidak diukur dari penampilan, tetapi dari perilaku.
Menghargai Sesama
KDM selalu menekankan pentingnya menghormati manusia dalam kondisi apa pun.
Baik pemulung, pedagang kecil, anak jalanan, maupun orang tua yang hidup miskin—semuanya diperlakukan setara.
Inilah nilai ngahargaan batur (menghargai orang lain) yang begitu dalam dalam budaya Sunda.
Menjaga Alam dan Lingkungan
Filosofi Sunda juga sangat erat dengan alam.
KDM sering menegaskan bahwa manusia harus hidup selaras dengan lingkungan—tidak merusak, tidak mengambil berlebihan, dan selalu bersyukur atas apa yang diberikan alam.
Dalam banyak kesempatan, ia mengajak masyarakat untuk menanam pohon, menjaga sungai, dan memperbaiki lingkungan sekitar.
Baginya, pembangunan tanpa mempertimbangkan alam sama saja dengan merusak masa depan generasi berikutnya.
Memadukan Modernitas dan Tradisi
Meski memegang teguh budaya Sunda, KDM tetap mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Lewat media sosial, ia membagikan kisah perjalanan dan kemanusiaan yang berakar dari nilai budaya.
Dengan cara ini, ia memperkenalkan kearifan lokal Sunda kepada generasi muda yang jauh dari kehidupan tradisional.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa budaya tidak harus dilestarikan dengan cara yang kaku—budaya bisa relevan, menarik, dan tetap hidup jika dikemas dengan cara yang tepat.
Kesimpulan
Kang Dedi Mulyadi membuktikan bahwa kearifan lokal Sunda bukan hanya sejarah, tetapi pedoman hidup yang bisa menjadi kekuatan besar dalam memajukan masyarakat.
Dengan menggabungkan budaya, kepemimpinan, dan empati, KDM menghadirkan contoh nyata bagaimana nilai-nilai tradisional mampu menggerakkan perubahan modern.

