
Masalah sampah tidak pernah datang tiba-tiba. Ia tidak jatuh dari langit. Ia lahir dari kebiasaan kecil yang diulang setiap hari.
Satu plastik dibuang ke sungai. Satu bungkus makanan dilempar dari motor. Satu kantong sampah diletakkan di sudut pasar dengan harapan “nanti juga ada yang bersihin”.
Masalahnya, “nanti” itu tidak pernah benar-benar datang.
Jawa Barat sudah lama hidup dalam kontradiksi lingkungan. Di satu sisi, provinsi ini kaya sungai, hutan, dan bentang alam indah. Di sisi lain, aliran sungainya sering berubah menjadi jalur sampah berjalan. Pasar tradisional menumpuk limbah organik. Saluran air tersumbat plastik. Banjir bukan lagi kejadian musiman, tapi rutinitas.
Di tengah situasi ini, pendekatan Kang Dedi Mulyadi terasa tidak biasa. Ia tidak hanya berbicara dari podium. Ia turun langsung ke sungai. Ia berdiri di pasar. Ia menegur warga yang membuang sampah sembarangan — bukan dengan kemarahan kosong, tapi dengan pesan moral yang tajam.
Pendekatan ini bukan sekadar simbol. Ini strategi.
Masalah Sampah Bukan Sekadar Infrastruktur
Banyak kebijakan lingkungan gagal karena menganggap sampah sebagai persoalan teknis: kurang truk, kurang TPA, kurang anggaran. Padahal akar masalahnya sering jauh lebih sederhana — mentalitas.
Jika kebiasaan membuang sampah sembarangan tetap hidup, berapa pun anggaran tidak akan cukup.
KDM tampaknya memahami bahwa perang melawan sampah dimulai dari budaya. Dan budaya tidak bisa diubah hanya dengan aturan tertulis. Ia harus disentuh melalui pengalaman langsung.
Ketika seorang pemimpin turun ke sungai yang kotor, pesan yang disampaikan bukan sekadar teguran. Itu adalah cermin sosial. Ia memaksa publik melihat konsekuensi dari kebiasaan mereka sendiri.
Lingkungan bukan rusak karena satu keputusan besar. Ia rusak karena jutaan keputusan kecil.
Efek Psikologis Ketika Pemimpin Hadir di Lapangan
Ada kekuatan simbolik ketika seorang pemimpin berdiri di tengah bau sampah. Itu mematahkan jarak antara kebijakan dan realitas. Banyak warga terbiasa menganggap kebersihan sebagai tugas pemerintah. Tapi ketika pemerintah hadir di tengah kotoran yang diciptakan warga, tanggung jawab itu menjadi kolektif.
Teguran KDM sering terasa personal. Ia tidak berbicara dalam angka statistik. Ia berbicara tentang rasa malu. Tentang warisan untuk anak. Tentang sungai sebagai sumber kehidupan.
Pesan moral seperti ini lebih kuat daripada baliho kampanye kebersihan. Karena ia menyentuh identitas, bukan hanya perilaku.
Dan perubahan perilaku paling tahan lama selalu berawal dari identitas.
Dari Sungai ke Sistem
Aksi turun ke lapangan penting sebagai pemicu kesadaran. Tapi kesadaran tanpa sistem akan cepat memudar. KDM tidak berhenti pada simbol. Narasi yang ia bangun selalu mengarah pada solusi struktural.
Masalah sampah tidak selesai hanya dengan membersihkan. Ia harus dicegah sejak sumbernya.
Artinya, pengelolaan sampah harus bergerak dari hilir ke hulu: dari TPA ke rumah tangga. Dari penumpukan ke pemilahan. Dari membuang ke mengelola.
Inilah titik di mana kebijakan lingkungan bertemu pendidikan publik.
KDM Lingkungan Jabar: Mengubah Kebiasaan, Bukan Sekadar Membersihkan
Yang membuat pendekatan KDM menarik adalah fokusnya pada pembiasaan. Ia sering menekankan bahwa kebersihan bukan proyek sesaat, tapi disiplin harian.
Pasar yang bersih bukan hasil kerja petugas kebersihan semata. Ia hasil kesepakatan sosial. Sungai yang bersih bukan hadiah pemerintah. Ia cerminan karakter warga.
Pesan ini sederhana, tapi radikal. Ia memindahkan posisi masyarakat dari penonton menjadi pelaku utama.
Dan ketika warga merasa memiliki peran, mereka cenderung menjaga hasilnya.
Lingkungan Sebagai Pendidikan Karakter
Ada hubungan erat antara kebersihan dan karakter. Bangsa yang terbiasa membuang sampah sembarangan sering kali juga terbiasa mengabaikan aturan lain. Disiplin lingkungan adalah pintu masuk disiplin sosial.
Karena itu, kampanye kebersihan bukan sekadar urusan estetika kota. Ini latihan tanggung jawab kolektif.
Ketika anak-anak melihat orang dewasa menjaga sungai, mereka belajar tanpa perlu ceramah. Ketika pasar menjadi ruang bersih, ia mengajarkan standar hidup yang lebih tinggi.
Lingkungan adalah ruang kelas terbesar yang kita miliki.
Dan KDM menggunakan ruang kelas itu secara terbuka.
Solusi Jangka Panjang Tidak Bisa Instan
Sampah yang menumpuk selama puluhan tahun tidak bisa diselesaikan dalam satu periode jabatan. Solusi jangka panjang membutuhkan kombinasi kebijakan, teknologi, dan perubahan budaya.
Yang paling sulit dari ketiganya adalah budaya.
Teknologi bisa dibeli. Infrastruktur bisa dibangun. Tapi kebiasaan harus dilatih. Ia membutuhkan waktu, konsistensi, dan keteladanan.
Dan keteladanan tidak bisa diwakilkan.
Ketika pemimpin sendiri berani masuk ke sungai kotor, ia sedang mengatakan: “Saya tidak meminta kalian melakukan sesuatu yang saya sendiri tidak lakukan.”
Itu adalah bentuk kepemimpinan paling kuat.
FAQ
Apa solusi jangka panjang yang ditawarkan KDM untuk mengatasi masalah sampah yang menumpuk di aliran sungai Jawa Barat?
Pendekatan jangka panjang yang sering dikaitkan dengan KDM menekankan tiga hal utama: perubahan budaya, sistem pengelolaan dari hulu, dan keterlibatan masyarakat.
Pertama, perubahan budaya melalui edukasi publik. Warga didorong untuk melihat sampah sebagai tanggung jawab pribadi, bukan semata urusan pemerintah. Kampanye langsung di pasar dan sungai adalah bentuk pendidikan sosial yang menargetkan perilaku.
Kedua, pengelolaan dari sumber. Ini mencakup pemilahan sampah rumah tangga, pengurangan plastik sekali pakai, dan penguatan bank sampah komunitas. Tujuannya bukan hanya membersihkan, tetapi mengurangi produksi sampah sejak awal.
Ketiga, partisipasi kolektif. Solusi lingkungan tidak bisa top-down. Ia harus melibatkan RT, RW, sekolah, pasar, dan komunitas lokal. Ketika masyarakat menjadi bagian dari sistem, keberlanjutan lebih mungkin terjadi.
Intinya, solusi jangka panjang bukan hanya tentang membersihkan sungai hari ini, tetapi memastikan sungai tetap bersih sepuluh tahun ke depan.
Penutup
Masalah lingkungan jarang hancur karena satu bencana besar. Ia runtuh perlahan, melalui pembiaran. Dan pembiaran selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dianggap sepele.
Apa yang dilakukan KDM adalah mengangkat hal sepele itu menjadi isu publik. Ia memaksa kita berhenti menganggap sampah sebagai sesuatu yang “nanti ada yang urus”.
Karena pada akhirnya, sungai yang kotor bukan kegagalan pemerintah semata. Ia adalah cermin kebiasaan masyarakatnya.
Dan perubahan terbesar selalu dimulai dari kesadaran bahwa kita semua terlibat di dalamnya.
Baca juga artikel sebelumnya!
Edukasi di Balik Konten: Cara KDM Mengubah Mental “Minta-Minta” Menjadi Semangat Berdikari

