spot_img
Friday, February 13, 2026
More
    spot_img
    HomeArtikelHutan Bukan Warisan, Tapi Titipan: Kemarahan yang Menjadi Alarm Lingkungan

    Hutan Bukan Warisan, Tapi Titipan: Kemarahan yang Menjadi Alarm Lingkungan

    -

    Kemarahan KDM saat menemukan penebangan ilegal di lereng gunung bukan sekadar reaksi emosional. Itu adalah alarm keras tentang krisis yang sering tidak terlihat: hilangnya daerah resapan air yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat.

    Gunung bukan hanya pemandangan indah. Ia adalah menara air alami. Ketika pohon ditebang sembarangan, yang hilang bukan cuma kayu — tapi perlindungan dari banjir, longsor, dan kekeringan.

    Saat Dedi Mulyadi berdiri di lokasi dan menegur pelaku, pesan yang ia bawa jauh lebih besar daripada sekadar pelanggaran hukum. Ia menegaskan bahwa merusak hutan berarti menyerang masa depan bersama.

    Daerah Resapan Air adalah Infrastruktur Alam

    Banyak orang mengira infrastruktur hanya beton dan baja. Padahal hutan adalah infrastruktur paling tua dan paling canggih yang dimiliki manusia.

    Akar pohon menyimpan air hujan. Tanah menyaringnya. Sungai mendapat pasokan stabil. Sawah hidup. Sumur warga tidak kering.

    Sekali hutan rusak, seluruh sistem runtuh.

    Penebangan ilegal di lereng gunung bukan kejahatan kecil. Ia menciptakan efek domino ekologis: banjir di musim hujan, krisis air di musim kemarau, dan tanah longsor yang bisa merenggut nyawa.

    Karena itu kemarahan KDM bisa dibaca sebagai kemarahan atas ancaman terhadap keselamatan publik.

    Ancaman sebagai Pesan Hukum dan Moral

    Pendekatan yang ia gunakan bukan hanya emosi, tapi kombinasi tekanan hukum dan tekanan moral.

    Ancaman bagi pelaku bukan sekadar “akan ditindak,” tapi penegasan bahwa perusakan lingkungan adalah kejahatan terhadap masyarakat luas. Ia menempatkan pelaku bukan sebagai pencari nafkah biasa, tapi sebagai pihak yang merampas hak hidup generasi berikutnya.

    Ini penting: narasi diubah dari “urusan pribadi” menjadi “kejahatan sosial”.

    Ketika hutan dipahami sebagai milik bersama, maka merusaknya adalah pengkhianatan terhadap komunitas.

    Efek Psikologis dari Teguran Terbuka

    Teguran yang dilakukan di lokasi, di depan warga, menciptakan efek jera yang kuat. Ia bukan sekadar sanksi administratif, tapi koreksi sosial.

    Orang lain yang menyaksikan mendapat pesan jelas: eksploitasi alam bukan hal yang bisa dinegosiasikan.

    Kadang hukum tertulis kalah kuat dibanding rasa malu publik. Dan rasa malu sosial sering menjadi benteng pertama perlindungan lingkungan.

    Kemarahan yang Terukur

    Yang menarik, kemarahan KDM bukan kemarahan liar. Ia kemarahan yang diarahkan. Fokusnya bukan mempermalukan individu, tapi menyelamatkan wilayah.

    Ini kemarahan yang berfungsi sebagai energi perlindungan.

    Dalam banyak kasus lingkungan, masalah terbesar bukan kurangnya aturan, tapi kurangnya figur yang berani menegakkan batas. Ketika batas itu ditegaskan dengan keras, masyarakat memahami bahwa ada garis merah yang tidak boleh dilewati.

    FAQ

    Apa ancaman KDM bagi oknum yang kedapatan merusak daerah resapan air demi kepentingan pribadi?

    Ancaman yang ia sampaikan bersifat tegas: pelaku akan diproses secara hukum dan diperlakukan sebagai perusak kepentingan publik, bukan sekadar pelanggar ringan. Ia menekankan bahwa perusakan daerah resapan air sama dengan membahayakan keselamatan warga, sehingga tidak ada toleransi.

    Selain ancaman hukum, ada tekanan moral: pelaku diingatkan bahwa keuntungan pribadi tidak bisa dibenarkan jika merugikan ribuan orang. Pesan ini memperkuat efek jera karena menyentuh aspek sosial, bukan hanya legal.

    Penutup

    Hutan tidak bisa berteriak saat ditebang. Sungai tidak bisa protes saat mengering. Gunung tidak bisa melapor saat dilukai.

    Manusialah yang harus menjadi suaranya.

    Kemarahan terhadap perusakan alam bukan tanda kebencian, tapi tanda cinta pada kehidupan. Karena setiap pohon yang berdiri adalah perlindungan diam-diam bagi manusia yang bahkan tidak pernah menyadarinya.

    Dan ketika seseorang berani marah demi hutan, ia sedang berdiri di sisi masa depan.

    Baca juga artikel sebelumnya!

    Ketika Teguran di Jalan Menjadi Pelajaran Publik: Aksi Spontan yang Mengubah Cara Pandang tentang Sampah

    Related articles

    Stay Connected

    0FansLike
    0FollowersFollow
    0FollowersFollow
    0SubscribersSubscribe
    spot_img

    Latest posts