Pendahuluan
Sosok Kang Dedi Mulyadi dikenal bukan hanya sebagai tokoh politik, tetapi juga sebagai penjaga nilai-nilai budaya Sunda. Dalam setiap kebijakan dan tindakannya, ia selalu berpegang pada filosofi hidup orang Sunda yang penuh kesantunan, gotong royong, dan rasa hormat terhadap alam. Bagi Dedi, budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan kompas moral untuk menghadapi masa depan.
Hirup Teu Kudu Ngalangkungkeun Batur
Salah satu filosofi yang sering Dedi sampaikan adalah “hirup teu kudu ngalangkungkeun batur,” yang berarti hidup tidak perlu menyaingi orang lain. Nilai ini menekankan pentingnya kesederhanaan dan kebersamaan. Dedi percaya bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari kemewahan, tapi dari kemampuan berbagi dan hidup selaras dengan orang lain. Prinsip ini pula yang membuatnya selalu dekat dengan rakyat kecil dan tidak segan duduk di saung sederhana bersama petani.
Ngajaga Alam, Ngajaga Diri
Bagi masyarakat Sunda, alam adalah bagian dari kehidupan spiritual. Dedi Mulyadi menjadikan filosofi ini sebagai dasar kebijakannya. Ia sering mengatakan, “Lamun urang miara alam, alam ogé bakal miara urang” — jika kita menjaga alam, maka alam akan menjaga kita. Itulah sebabnya, selama menjabat sebagai Bupati Purwakarta, ia banyak menciptakan taman hijau, tempat ibadah yang berpadu dengan alam, serta gerakan menanam pohon di setiap sudut desa.
Menurut Dedi, menjaga lingkungan bukan hanya soal kebijakan, tapi tanggung jawab moral dan spiritual.
Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh
Filosofi ini menjadi ruh dari kepemimpinan Dedi. Ia menanamkan nilai saling menghormati, saling membantu, dan saling mendidik di tengah masyarakat. Dalam pandangannya, masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang hidup dengan prinsip kasih sayang, bukan kebencian. Ia berusaha mewujudkannya lewat berbagai kegiatan sosial, seperti membantu warga miskin tanpa pandang bulu dan menggelar acara budaya yang mempererat persaudaraan.
Ngabdi ka Rahayat, lain ka Jabatan
Dedi sering mengatakan bahwa jabatan adalah amanah, bukan kehormatan pribadi. Ia menunjukkan filosofi “ngabdi ka rahayat,” yaitu melayani rakyat dengan tulus tanpa mencari keuntungan pribadi. Itulah sebabnya, meskipun pernah dihujat dan disalahpahami, ia tetap berpegang teguh pada idealismenya untuk membela rakyat kecil.
Ia berprinsip bahwa pemimpin harus “ngawula,” atau melayani, bukan “ngawula ka jabatan” (melayani kekuasaan).
Ngamumule Kabudayaan, Ngarumat Jati Diri
Dalam era globalisasi, banyak budaya lokal tergerus oleh pengaruh luar. Dedi Mulyadi menolak hal itu terjadi pada budaya Sunda. Ia justru menjadikan budaya Sunda sebagai inspirasi pembangunan. Contohnya, desain arsitektur kantor pemerintahan di Purwakarta yang mengadopsi bentuk rumah adat Sunda, serta adanya kegiatan rutin seperti Mapag Dewi Sri dan Sampurasun Festival.
Menurutnya, masyarakat yang melupakan budaya sendiri akan kehilangan jati diri dan arah hidup.
Bahasa Sunda Sebagai Cermin Budi Pekerti
Dedi juga dikenal sangat menjaga bahasa Sunda halus dalam komunikasi publiknya. Ia percaya bahwa bahasa mencerminkan karakter. Bahasa Sunda mengajarkan kesopanan, kelembutan, dan empati, sehingga orang yang terbiasa menggunakannya akan lebih berhati-hati dalam berbicara dan bersikap.
Ia sering mengingatkan generasi muda untuk tidak malu menggunakan bahasa daerah, karena dari sanalah akar kesantunan tumbuh.
Gotong Royong sebagai Wujud Silih Asih
Dedi menghidupkan kembali semangat gotong royong yang kini mulai hilang di masyarakat modern. Ia memaknai gotong royong bukan hanya kegiatan fisik, tapi juga sikap mental saling menolong tanpa pamrih. Dari membantu tetangga hingga membersihkan lingkungan bersama, semua itu adalah bentuk nyata filosofi silih asih.
Dengan cara ini, ia ingin agar masyarakat tidak kehilangan rasa kebersamaan di tengah kehidupan modern yang cenderung individualis.
Ngajenan Karuhun (Menghormati Leluhur)
Bagi Dedi, menghormati leluhur bukan berarti memuja masa lalu, melainkan mengambil nilai-nilai kebaikan yang diwariskan. Ia kerap mengunjungi situs-situs bersejarah, makam tokoh Sunda, dan tempat sakral untuk mengingatkan masyarakat agar tidak melupakan asal usulnya.
Menurutnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai sejarah dan leluhurnya.
Ngawangun Ku Rasa, lain Ku Amarah
Dalam menghadapi kritik dan perbedaan pendapat, Dedi selalu memilih jalan damai. Ia percaya bahwa setiap masalah bisa diselesaikan dengan hati, bukan emosi. “Ngawangun ku rasa” berarti membangun dengan empati, bukan dengan kemarahan.
Filosofi ini membuatnya dikenal sebagai pemimpin yang humanis dan bijak dalam menghadapi situasi sulit.
Kesimpulan
Dedi Mulyadi telah membuktikan bahwa filosofi hidup Sunda bisa menjadi fondasi kuat untuk kepemimpinan dan pembangunan modern. Ia tidak hanya mengucapkannya, tetapi menerapkannya dalam tindakan nyata. Dari nilai silih asih, gotong royong, hingga penghormatan terhadap alam dan leluhur — semua melekat dalam setiap langkahnya.
Melalui Dedi, kita belajar bahwa budaya bukan penghambat kemajuan, melainkan sumber kebijaksanaan yang membuat kita tetap manusia di tengah modernitas.

