spot_img
Monday, February 23, 2026
More
    spot_img
    HomeArtikelDi Antara Cangkul dan Terik Matahari: Saat KDM Soroti Nasib Buruh Tani...

    Di Antara Cangkul dan Terik Matahari: Saat KDM Soroti Nasib Buruh Tani yang Upahnya Tak Seimbang dengan Keringatnya

    -

    Seharian membungkuk di sawah, kaki terendam lumpur, punggung dibakar matahari. Tapi ketika senja datang dan upah diterima, nilainya hanya cukup untuk membeli beras satu liter. Kalimat itu bukan sekadar kritik — itu potret keras realitas yang diangkat oleh Dedi Mulyadi saat berbicara tentang nasib buruh tani.

    Buruh tani adalah tulang punggung produksi pangan. Mereka memastikan sawah tetap hidup, panen tetap datang, dan dapur rakyat tetap mengepul. Ironisnya, banyak dari mereka justru hidup di garis ketidakpastian.

    Upah harian yang kecil dan tidak menentu membuat hidup mereka selalu berada di ambang krisis. Jika hujan terlalu lama, tak ada kerja. Jika musim tanam selesai, tak ada pemasukan. Siklus ini terus berulang.

    Masalah struktural yang sering diabaikan

    Buruh tani berbeda dengan pemilik lahan. Mereka tidak punya aset produksi. Mereka menjual tenaga, bukan hasil panen. Karena itu posisi tawarnya sangat lemah.

    Ketika harga gabah turun, yang terdampak bukan hanya petani pemilik lahan, tapi juga buruh yang jam kerjanya dikurangi. Tidak ada kontrak jangka panjang. Tidak ada jaminan sosial. Tidak ada kepastian penghasilan bulanan.

    KDM melihat persoalan ini bukan sekadar soal nominal upah, tetapi soal ketergantungan total pada sistem yang tidak stabil.

    Jika buruh tani hanya mengandalkan upah harian, maka mereka akan terus berada dalam lingkaran rentan.

    Mengubah dari pekerja harian menjadi pelaku usaha kecil

    Salah satu pendekatan pemberdayaan yang sering ditekankan adalah menggeser posisi buruh dari sekadar tenaga kerja menjadi pelaku ekonomi produktif.

    Artinya, mereka tidak hanya bekerja di sawah orang lain, tetapi juga memiliki sumber pendapatan tambahan yang lebih stabil.

    Program pemberdayaan yang ditawarkan biasanya mengarah pada:

    pelatihan keterampilan tambahan,
    modal usaha mikro,
    serta pendampingan usaha berbasis desa.

    Contohnya, buruh tani bisa didorong memiliki usaha sampingan seperti peternakan kecil, pengolahan hasil tani, atau usaha pangan rumahan. Dengan begitu, ketika musim tanam sepi, dapur tetap berjalan.

    Diversifikasi pendapatan adalah kunci.

    Membentuk koperasi dan kelompok usaha bersama

    Individu sering lemah. Kelompok jauh lebih kuat.

    KDM kerap mendorong pembentukan koperasi atau kelompok usaha bersama di desa. Melalui koperasi, buruh tani bisa:

    mengakses modal dengan bunga rendah,
    membeli kebutuhan produksi lebih murah,
    dan bahkan menjual hasil olahan dengan harga lebih baik.

    Kekuatan kolektif meningkatkan posisi tawar. Mereka tidak lagi berdiri sendiri di hadapan tengkulak atau pemilik modal besar.

    Selain itu, sistem kelompok menciptakan rasa saling menjaga. Risiko usaha bisa ditanggung bersama.

    Akses pelatihan dan peningkatan keterampilan

    Banyak buruh tani memiliki pengalaman lapangan yang luar biasa, tetapi minim akses pelatihan formal. Padahal peningkatan keterampilan bisa membuka peluang baru.

    Pelatihan pertanian modern, teknik pengolahan hasil, hingga manajemen usaha sederhana dapat mengubah pola pikir dari sekadar “menunggu kerja” menjadi “menciptakan peluang”.

    Pemberdayaan sejati bukan memberi uang, tetapi memberi kemampuan menghasilkan uang secara mandiri.

    Integrasi ke program jaminan sosial

    Aspek penting lain adalah perlindungan dasar. Buruh tani rentan terhadap sakit dan kecelakaan kerja. Tanpa jaminan kesehatan atau perlindungan sosial, satu musibah kecil bisa menghancurkan ekonomi keluarga.

    Karena itu pemberdayaan tidak lengkap tanpa integrasi ke sistem jaminan sosial, seperti akses layanan kesehatan dan bantuan sosial produktif.

    Ketika kebutuhan dasar aman, keberanian untuk berkembang akan muncul.

    Membangun desa sebagai pusat ekonomi

    Masalah buruh tani tidak bisa dipisahkan dari ekosistem desa. Jika desa hanya menjadi tempat produksi bahan mentah, maka nilai tambah akan lari ke kota.

    KDM sering menekankan pentingnya membangun ekonomi berbasis desa: pengolahan hasil panen di tingkat lokal, pasar desa yang aktif, dan dukungan UMKM berbasis pertanian.

    Jika nilai tambah tinggal di desa, maka upah dan pendapatan warga otomatis ikut naik.

    FAQ

    Program pemberdayaan apa yang ditawarkan KDM agar buruh tani tidak hanya mengandalkan upah harian yang tidak menentu?

    Program pemberdayaan difokuskan pada diversifikasi pendapatan dan penguatan ekonomi desa. Ini meliputi bantuan modal usaha mikro, pembentukan koperasi atau kelompok usaha bersama, pelatihan keterampilan pertanian dan usaha kecil, serta integrasi buruh tani ke dalam program jaminan sosial. Tujuannya adalah mengubah buruh tani dari sekadar penerima upah harian menjadi pelaku ekonomi produktif yang memiliki sumber penghasilan lebih stabil dan berkelanjutan.

    Penutup

    Keringat buruh tani terlalu mahal jika hanya dihargai dengan upah yang cukup membeli beras satu liter. Mereka bukan sekadar pekerja musiman. Mereka penjaga ketahanan pangan.

    Ketika pemberdayaan dilakukan dengan serius, buruh tani tidak lagi berdiri di posisi paling lemah dalam rantai ekonomi. Mereka bisa naik kelas — bukan dengan cara instan, tetapi melalui sistem yang memberi kesempatan.

    Dan mungkin di situlah keadilan sosial benar-benar mulai terasa: ketika orang yang paling keras bekerja tidak lagi hidup paling sulit.

    Baca juga artikel sebelumnya!

    Di Jalan yang Hampir Renggut Masa Depan: Saat KDM Hentikan Anak SD Bawa Motor dan Mengingatkan Kita Tentang Tanggung Jawab Orang Tua

    Related articles

    Stay Connected

    0FansLike
    0FollowersFollow
    0FollowersFollow
    0SubscribersSubscribe
    spot_img

    Latest posts