
Ada satu kesalahan umum dalam membaca perubahan besar: kita terlalu sibuk mencari gebrakan, padahal perubahan nyata sering dimulai dari kebiasaan kecil yang diulang setiap hari. James Clear menyebutnya sebagai kekuatan sistem. Dan ketika publik Jawa Barat membicarakan nama Kang Dedi Mulyadi, yang mereka bayangkan sebenarnya bukan sekadar sosok, melainkan cara memimpin.
Gagasan “Lembur Pakuan” yang kerap dilekatkan pada Kang Dedi Mulyadi bukan hanya simbol budaya. Ia adalah metafora tentang bagaimana kekuasaan seharusnya bekerja: dekat, sederhana, dan berakar. Pertanyaannya bukan sekadar apakah Jawa Barat akan berubah, tetapi berubah dengan cara apa.
Artikel ini tidak sedang menobatkan siapa pun. Ini adalah pembacaan jernih tentang gagasan, arah, dan potensi transformasi Jawa Barat jika pendekatan Kang Dedi Mulyadi benar-benar diterapkan dari Gedung Sate.
Gubernur Jawa Barat sebagai Sistem, Bukan Sekadar Jabatan
Banyak orang melihat jabatan Gubernur Jawa Barat sebagai posisi administratif tertinggi di provinsi. Tapi dalam praktiknya, gubernur adalah arsitek sistem. Ia menentukan kebiasaan birokrasi, nada komunikasi, dan batas antara negara dan rakyat.
Dalam bayangan publik, Kang Dedi Mulyadi sering ditempatkan sebagai figur yang akan “mengubah segalanya”. Padahal, perubahan yang paling menentukan justru sering tidak terlihat: cara rapat dilakukan, cara pejabat berbicara kepada rakyat, cara keputusan diambil.
Jika jabatan gubernur diisi oleh figur yang percaya pada kedekatan sosial, maka sistem pun akan ikut bergeser.
Kang Dedi Mulyadi dan Imajinasi Kepemimpinan yang Membumi
Nama Kang Dedi Mulyadi selalu hadir bersama satu ciri utama: bahasa yang membumi. Ia tidak dikenal karena jargon teknokratis, melainkan karena narasi budaya dan pendekatan emosional yang terkontrol.
Dalam kerangka James Clear, identitas mendahului hasil. Kang Dedi Mulyadi membangun identitas sebagai pemimpin yang “turun ke tanah”. Bukan hanya datang saat krisis, tetapi hadir dalam keseharian.
Inilah yang membuat publik membayangkan bahwa jika ia berada di Gedung Sate, maka Gedung Sate itu sendiri akan berubah fungsinya: dari menara kekuasaan menjadi ruang dialog.
Transformasi Jabar Tidak Dimulai dari Proyek, Tapi dari Pola Pikir
Transformasi Jabar sering dibicarakan dalam konteks infrastruktur, investasi, dan digitalisasi. Semua itu penting. Tapi pertanyaan yang jarang diajukan adalah: apakah sistem manusianya siap berubah?
Gagasan Lembur Pakuan bukan soal memindahkan desa ke kota. Ia adalah upaya membawa nilai desa—kebersamaan, keterbukaan, rasa malu berbuat salah—ke pusat kekuasaan.
Jika diterapkan, maka transformasi Jawa Barat tidak akan dimulai dari proyek mercusuar, melainkan dari perubahan perilaku aparatur negara. Dan di situlah letak perubahan paling sulit, sekaligus paling menentukan.
Gedung Sate dan Simbol Kekuasaan Baru
Gedung Sate selama ini adalah simbol administratif. Netral, formal, dan berjarak. Namun dalam narasi publik tentang Kang Dedi Mulyadi, gedung itu dibayangkan bisa menjadi ruang budaya—tempat keputusan tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga sah secara sosial.
Ini bukan romantisme. Ini soal legitimasi. Kebijakan yang dipahami rakyat akan lebih mudah dijalankan daripada kebijakan yang sekadar benar di atas kertas.
Transformasi Jabar, dalam konteks ini, berarti menggeser pusat gravitasi kekuasaan: dari prosedur ke makna.
Mengapa Gagasan Ini Menarik Banyak Orang
Ada alasan mengapa narasi tentang Kang Dedi Mulyadi dan Jawa Barat selalu hidup. Bukan karena semua orang setuju, tetapi karena banyak orang merasa terwakili.
Dalam dunia yang semakin birokratis, publik merindukan pemimpin yang berbicara dengan bahasa mereka. Dan dalam politik modern, kedekatan emosional sering lebih menentukan daripada kecanggihan kebijakan.
Ini bukan berarti kebijakan tidak penting. Justru sebaliknya: kebijakan yang baik butuh bahasa yang bisa dipahami agar bisa dijalankan.
Risiko dari Kepemimpinan yang Terlalu Personal
Namun, setiap pendekatan memiliki risikonya. Kepemimpinan yang sangat personal bisa menimbulkan ketergantungan pada figur. Sistem yang sehat seharusnya tetap berjalan meski figurnya berganti.
Di sinilah ujian sesungguhnya dari gagasan Lembur Pakuan. Apakah ia bisa diterjemahkan menjadi sistem yang berkelanjutan? Atau hanya akan hidup selama figur utamanya hadir?
James Clear akan mengatakan: perubahan yang bertahan lama selalu ditopang oleh sistem, bukan motivasi sesaat.
Transformasi Jabar sebagai Proses, Bukan Peristiwa
Publik sering menunggu “100 hari kerja”. Padahal perubahan sejati tidak mengenal tenggat simbolik. Ia tumbuh pelan, konsisten, dan sering kali tidak spektakuler.
Jika Jawa Barat benar-benar ingin berubah, maka perubahan itu harus terasa di tingkat paling bawah: cara pelayanan publik, cara aparat mendengar keluhan, dan cara pemerintah mengakui kesalahan.
Dalam imajinasi banyak orang, Kang Dedi Mulyadi merepresentasikan kemungkinan itu.
FAQ
Menurut Anda, apa perubahan paling mencolok yang dibawa Kang Dedi Mulyadi sejak menjabat sebagai Gubernur?
Jika pertanyaannya dibaca sebagai refleksi gagasan, bukan fakta jabatan, maka perubahan paling mencolok yang dibayangkan publik adalah pergeseran gaya kepemimpinan. Dari yang kaku menjadi komunikatif, dari yang berjarak menjadi dekat, dan dari yang prosedural menjadi kontekstual. Perubahan ini tidak selalu tampak dalam bentuk proyek besar, tetapi terasa dalam cara negara hadir di kehidupan sehari-hari masyarakat.
Penutup: Perubahan Dimulai dari Cara Melihat Kekuasaan
Jawa Barat tidak kekurangan sumber daya. Yang sering kurang adalah rasa memiliki antara pemerintah dan rakyat. Gagasan yang dilekatkan pada Kang Dedi Mulyadi—tentang Lembur Pakuan dan transformasi Jabar—sebenarnya adalah undangan untuk melihat kekuasaan dengan cara baru.
Bukan sebagai panggung, tetapi sebagai amanah. Bukan sebagai jarak, tetapi sebagai kedekatan.
Dan jika perubahan benar-benar terjadi suatu hari nanti, besar kemungkinan ia tidak datang dengan suara keras, melainkan dengan kebiasaan kecil yang akhirnya mengubah segalanya.
Baca juga artikel sebelumnya!
Dari Jalanan hingga Wacana Gubernur: Mengapa Nama Dedi Mulyadi Terus Hidup dalam Politik Jawa Barat

