spot_img
Thursday, March 19, 2026
More
    spot_img
    HomeArtikelBela Petani Gurem: Dedi Mulyadi Desak Pemerintah Lindungi Lahan Pertanian dari Serbuan...

    Bela Petani Gurem: Dedi Mulyadi Desak Pemerintah Lindungi Lahan Pertanian dari Serbuan Beton Perumahan

    -

    Kita sering membicarakan pembangunan seolah-olah ia selalu berarti gedung baru. Jalan tol baru. Kawasan industri baru. Kompleks perumahan baru. Beton menjadi simbol kemajuan. Sawah, pelan-pelan, dianggap masa lalu.

    Padahal setiap kali satu hektare sawah berubah menjadi perumahan, yang hilang bukan hanya pemandangan hijau. Yang hilang adalah dapur masa depan.

    Jawa Barat berada di persimpangan ini. Di satu sisi, provinsi ini adalah mesin ekonomi nasional. Di sisi lain, ia juga lumbung pangan yang menopang jutaan orang. Ketika lahan pertanian menyusut, konflik kepentingan muncul: pertumbuhan ekonomi versus ketahanan pangan.

    Dalam lanskap inilah sikap Kang Dedi Mulyadi terasa tegas. Narasi yang sering dikaitkan dengannya bukan sekadar pembangunan cepat, tetapi pembangunan yang sadar akar. Ia berbicara tentang petani gurem — kelompok yang paling rentan tergerus modernisasi — sebagai penjaga garis depan pangan.

    Dan menjaga petani berarti menjaga tanah.

    Petani Gurem dan Krisis yang Sunyi

    Petani gurem jarang menjadi headline. Mereka bekerja di lahan kecil, hasil tipis, tanpa perlindungan kuat. Mereka adalah tulang punggung yang sering tak terlihat. Ironisnya, justru kelompok inilah yang paling dulu terdampak alih fungsi lahan.

    Ketika tanah dijual, yang pindah bukan hanya fungsi ekonomi. Identitas sosial ikut berubah. Desa kehilangan karakter agrarisnya. Generasi muda melihat pertanian sebagai jalan buntu. Mereka pergi ke kota, meninggalkan sawah yang dulu menjadi sumber kehidupan keluarga.

    Krisis ini tidak meledak seperti bencana. Ia terjadi perlahan. Sunyi. Tapi dampaknya sistemik.

    Ketahanan pangan tidak runtuh dalam sehari. Ia runtuh karena keputusan kecil yang diulang terus-menerus: izin pembangunan, konversi lahan, kompromi jangka pendek.

    KDM Bela Petani: Narasi Pembangunan yang Berakar

    Yang menarik dari pendekatan KDM adalah cara ia memosisikan petani bukan sebagai kelompok lemah, tetapi sebagai fondasi peradaban. Ia sering menekankan bahwa bangsa yang kehilangan tanah pertaniannya kehilangan kedaulatan paling dasar: kemampuan memberi makan dirinya sendiri.

    Ini bukan romantisme desa. Ini strategi geopolitik pangan.

    Negara yang terlalu bergantung pada impor pangan rentan secara ekonomi dan politik. Karena itu, menjaga sawah bukan hanya soal nostalgia hijau, tetapi soal keamanan masa depan.

    Narasi ini menggeser cara pandang. Petani tidak lagi dilihat sebagai simbol kemiskinan, tetapi sebagai penjaga stabilitas.

    Dan penjaga harus dilindungi.

    Pembangunan Tanpa Mengorbankan Akar

    Pertanyaannya bukan apakah pembangunan harus berhenti. Tidak ada daerah yang bisa hidup tanpa industri. Kota membutuhkan ruang tumbuh. Lapangan kerja harus diciptakan. Infrastruktur harus berkembang.

    Masalahnya muncul ketika pembangunan berjalan tanpa peta moral.

    Jika semua lahan subur berubah menjadi beton, kita sedang memakan masa depan untuk kenyamanan hari ini. Keseimbangan menjadi kata kunci. Dan keseimbangan tidak lahir dari pasar bebas semata. Ia lahir dari kebijakan yang sadar batas.

    Di sinilah peran kepemimpinan diuji: berani mengatakan cukup.

    Tidak semua tanah boleh dijual. Tidak semua sawah boleh diganti. Ada ruang yang harus dipertahankan sebagai wilayah produksi pangan, apa pun tekanan ekonominya.

    Pertanian Sebagai Martabat

    Ada dimensi psikologis dalam perlindungan petani. Ketika negara menghargai lahan pertanian, ia sedang mengirim pesan bahwa profesi petani bermartabat. Ini penting untuk generasi muda desa.

    Jika pertanian terus diposisikan sebagai sektor kalah, anak-anak petani tidak akan pernah melihat masa depan di sawah. Mereka akan tumbuh dengan satu impian: keluar dari desa secepat mungkin.

    Akibatnya, pertanian menua. Regenerasi gagal. Produksi menurun.

    Melindungi lahan bukan hanya soal tanah. Ia soal menjaga profesi tetap hidup.

    Ketahanan Pangan adalah Ketahanan Sosial

    Kelaparan jarang hanya soal makanan. Ia memicu ketegangan sosial, konflik harga, dan ketimpangan. Ketahanan pangan yang kuat menciptakan stabilitas. Harga terjaga. Distribusi terkendali. Masyarakat merasa aman.

    Karena itu, kebijakan yang berpihak pada petani sebenarnya berpihak pada seluruh warga.

    Ketika sawah terlindungi, kota ikut aman. Ketika petani kuat, pasar stabil. Ketika pangan terjaga, ekonomi lebih tahan guncangan.

    Inilah rantai yang sering tak terlihat dalam perdebatan pembangunan.

    FAQ

    Bagaimana cara KDM menyeimbangkan kebutuhan pembangunan industri dengan perlindungan lahan sawah produktif di Jawa Barat?

    Pendekatan yang sering diasosiasikan dengan KDM menekankan zonasi tegas dan prioritas strategis. Lahan pertanian produktif diposisikan sebagai kawasan yang harus dilindungi secara hukum, sementara pembangunan industri diarahkan ke wilayah yang tidak mengganggu sistem pangan.

    Selain itu, keseimbangan dicapai melalui integrasi ekonomi desa. Artinya, pertanian tidak dibiarkan berjalan tradisional tanpa dukungan teknologi. Modernisasi pertanian, akses pasar, dan nilai tambah produk desa menjadi bagian dari strategi agar sektor agraris tetap kompetitif.

    Tujuannya bukan menolak industri, tetapi memastikan industri tumbuh tanpa mematikan sumber pangan. Dengan kata lain: pembangunan berjalan, sawah tetap hidup.

    Penutup

    Peradaban selalu diukur dari cara ia memperlakukan tanahnya. Tanah bukan sekadar aset ekonomi. Ia adalah memori kolektif, sumber hidup, dan jaminan masa depan.

    Apa yang dilakukan melalui narasi KDM Bela Petani bukan sekadar membela satu kelompok. Ia membela prinsip bahwa kemajuan tidak boleh memakan fondasi yang menopangnya.

    Gedung bisa dibangun kembali. Sawah yang hilang belum tentu.

    Dan bangsa yang lupa menjaga tanahnya sering kali baru sadar ketika piringnya mulai kosong.

    Baca juga artikel sebelumnya!

    Jabar Darurat Sampah: Aksi Nyata Dedi Mulyadi Turun ke Sungai dan Pasar untuk Tegur Warga yang Buang Sampah Sembarangan

    Related articles

    Stay Connected

    0FansLike
    0FollowersFollow
    0FollowersFollow
    0SubscribersSubscribe
    spot_img

    Latest posts