

Di tengah kemacetan, sebuah mobil nekat melawan arus demi mencari jalan pintas. Tindakan yang terlihat sepele itu sebenarnya menyimpan risiko besar. Saat melihat kejadian seperti ini, Dedi Mulyadi memilih turun langsung menegur pengendara dengan kalimat tegas namun menyentuh: “Jangan mau cepat tapi nyawa orang lain jadi taruhannya.”
Pendekatan ini sering disebut sebagai bagian dari sikap KDM Tegur Pelanggar Jalan — lebih mengutamakan kesadaran daripada konfrontasi.
Pelanggaran yang Dianggap Biasa
Lawan arus sering dilakukan dengan alasan:
- Terburu-buru
- Menghindari macet
- Mengikuti kendaraan lain
Padahal dampaknya bisa fatal:
- Risiko tabrakan frontal
- Mengganggu arus kendaraan lain
- Membahayakan pejalan kaki
Masalahnya bukan hanya soal aturan, tetapi soal keselamatan bersama.
Cara Memberikan Pemahaman Tanpa Kekerasan
Menjawab pertanyaan: Bagaimana cara KDM memberikan pemahaman kepada pengendara agar tertib lalu lintas tanpa harus menggunakan kekerasan?
Berikut pendekatan yang biasa dilakukan:
1. Dialog Langsung dan Humanis
Alih-alih membentak atau mempermalukan, KDM memilih berbicara langsung dengan nada tegas namun tetap santun.
Pengendara diberi kesempatan menjelaskan alasan mereka. Setelah itu, dijelaskan dampak perbuatannya terhadap orang lain.
Pendekatan dialog membuat pelanggar merasa dihargai sebagai manusia, bukan musuh.
2. Mengajak Berpikir dari Sudut Pandang Korban
Salah satu metode yang efektif adalah membalik perspektif:
“Bagaimana kalau keluarga Anda jadi korban karena ada yang melawan arus?”
Pertanyaan seperti ini menumbuhkan empati. Ketertiban lalu lintas bukan hanya soal diri sendiri, tetapi tentang keselamatan banyak orang.
3. Tegas Tapi Tidak Kasar
Ketegasan tetap ada. Pesan disampaikan jelas bahwa tindakan tersebut salah dan berbahaya. Namun tanpa dorongan fisik, ancaman berlebihan, atau penghinaan.
Kombinasi tegas dan tenang justru lebih mengena.
4. Menjadikan Momen sebagai Edukasi Publik
Teguran di lapangan sering sekaligus menjadi pesan sosial bagi masyarakat luas.
Ketika publik melihat pelanggaran ditegur secara mendidik, muncul efek jera kolektif. Orang lain berpikir dua kali untuk melakukan hal serupa.
5. Hukum Tetap Jadi Penopang
Pendekatan persuasif bukan berarti menghapus aturan hukum. Jika pelanggaran membahayakan serius atau berulang, penegakan hukum tetap dilakukan sesuai prosedur.
Namun edukasi menjadi langkah awal agar perubahan datang dari kesadaran, bukan sekadar ketakutan pada sanksi.
Inti Pendekatannya
Ketertiban lalu lintas bukan hanya urusan polisi atau aparat. Itu budaya.
Budaya tertib tidak lahir dari kekerasan, tetapi dari pemahaman dan empati. Ketika pengendara sadar bahwa satu tindakan ceroboh bisa merenggut nyawa, maka mereka akan lebih berhati-hati.
Kesimpulan
KDM Tegur Pelanggar Jalan menunjukkan bahwa pemahaman bisa dibangun melalui dialog, empati, dan ketegasan yang manusiawi. Tanpa kekerasan, tanpa emosi berlebihan, tetapi tetap jelas dalam prinsip.
Cepat sampai tujuan itu penting.
Namun pulang dengan selamat jauh lebih penting.
Dan keselamatan bersama selalu lebih berharga daripada sekadar ingin lebih dulu tiba.
Baca juga artikel sebelumnya!
KDM Borong Dagangan Ibu Tua: “Jualan Dari Pagi Belum Laku, Langsung Disuruh Pulang Untuk Istirahat!”

