
Di tengah riuhnya musik modern dan tren digital, seorang dalang cilik memainkan wayang dengan penuh percaya diri di pinggir jalan. Tak banyak yang berhenti menonton. Namun ketika Dedi Mulyadi datang, suasana berubah. Ia bukan hanya memberi saweran, tetapi juga memberi pesan yang lebih dalam: “Jangan malu jadi penjaga budaya Sunda.”
Momen itu kemudian dikenal luas sebagai bagian dari gerakan KDM Dukung Seniman Cilik — sebuah sikap nyata membela kesenian tradisional agar tidak kalah oleh zaman.
Budaya Lokal di Tengah Gempuran Modern
Anak-anak muda hari ini hidup dalam arus globalisasi. Musik K-pop, EDM, dan konten viral lebih cepat menyebar dibanding gamelan atau wayang golek. Jika tidak ada ruang dan dukungan, kesenian tradisional bisa dianggap kuno dan ditinggalkan.
Padahal, alat musik tradisional dan seni pertunjukan bukan sekadar hiburan. Ia adalah identitas, sejarah, dan karakter masyarakat.
Cara KDM Memberikan Ruang untuk Generasi Muda
Menjawab pertanyaan: Bagaimana cara KDM memberikan ruang bagi anak-anak muda agar tetap bangga memainkan alat musik tradisional di tengah gempuran tren modern?
Berikut pendekatan yang sering ia lakukan:
1. Mengangkat Seniman ke Panggung Publik
Alih-alih membiarkan mereka tampil di ruang terbatas, KDM sering menghadirkan seniman cilik dalam acara resmi, festival daerah, dan kegiatan pemerintahan.
Ketika anak tampil di panggung besar, rasa bangga tumbuh. Mereka merasa dihargai, bukan dianggap hiburan kelas dua.
2. Memberikan Dukungan Finansial dan Moral
Saweran bukan sekadar uang. Itu simbol apresiasi.
Dengan dukungan langsung, anak-anak melihat bahwa memainkan alat musik tradisional bisa memiliki nilai ekonomi. Orang tua pun terdorong mendukung bakat anaknya.
Apresiasi moral sama pentingnya. Pesan seperti “kamu penjaga budaya” membangun rasa identitas.
3. Integrasi ke Dunia Pendidikan
KDM kerap mendorong agar seni tradisional tidak hanya jadi ekstrakurikuler pelengkap, tetapi menjadi bagian penting pembentukan karakter di sekolah.
Ketika seni daerah diajarkan sejak dini:
-
Anak mengenal akar budayanya
-
Tidak merasa asing dengan tradisinya sendiri
-
Bangga memperkenalkannya ke luar daerah
4. Mengemas Tradisi Secara Modern
Pelestarian bukan berarti menolak modernitas. Justru perlu kolaborasi.
Alat musik tradisional bisa dipadukan dengan aransemen modern tanpa menghilangkan identitas aslinya. Konten pertunjukan bisa dipublikasikan di media sosial agar menjangkau generasi digital.
Dengan begitu, budaya tetap hidup, bukan hanya disimpan di museum.
5. Membangun Narasi Kebanggaan
Hal terpenting adalah membangun narasi bahwa memainkan kecapi, angklung, atau menjadi dalang bukan hal memalukan.
Anak muda sering meninggalkan budaya karena takut dianggap ketinggalan zaman. Ketika tokoh publik memberikan legitimasi dan kebanggaan, stigma itu perlahan hilang.
Pesan Filosofisnya
Budaya tidak akan punah karena zaman berubah. Ia punah karena generasi mudanya merasa tidak bangga.
Gerakan KDM Dukung Seniman Cilik menunjukkan bahwa ruang, apresiasi, dan panggung adalah kunci pelestarian. Anak-anak muda tidak harus memilih antara modern dan tradisional. Mereka bisa berdiri di tengah, membawa budaya ke masa depan.
Karena pada akhirnya, bangsa yang besar bukan hanya yang maju teknologinya, tetapi yang kuat identitas budayanya.
Baca juga artikel sebelumnya!

