
Di sebuah proyek bangunan sederhana, seorang pria paruh baya memanggul semen di bawah terik matahari. Tak banyak yang tahu, ia pernah mengharumkan nama daerah lewat prestasi olahraga. Ketika mengetahui kisah itu, Dedi Mulyadi menyampaikan kalimat tegas: “Negara tidak boleh lupa jasa kalian.”
Kisah seperti ini kemudian menguat dalam narasi KDM Bantu Atlet Terlantar — bentuk kepedulian terhadap pahlawan olahraga yang pernah berjuang membawa nama daerah namun kini hidup dalam keterbatasan.
Realita Pahit Mantan Atlet
Banyak atlet daerah berprestasi menghadapi masalah setelah masa kejayaan berakhir:
-
Tidak memiliki pekerjaan tetap
-
Minim tabungan atau jaminan hari tua
-
Cedera lama yang mengganggu kesehatan
-
Kurangnya perhatian institusi olahraga
Padahal, mereka pernah mengorbankan waktu, tenaga, bahkan pendidikan demi prestasi.
Bentuk Apresiasi dan Pekerjaan yang Ditawarkan
Menjawab pertanyaan: Bentuk apresiasi atau pekerjaan apa yang ditawarkan KDM untuk menjamin masa depan pahlawan olahraga tersebut?
Berikut beberapa pendekatan yang biasanya ditawarkan:
1. Posisi sebagai Pelatih atau Pembina Olahraga
Mantan atlet memiliki pengalaman dan teknik yang tidak dimiliki banyak orang. Karena itu, mereka bisa diberi peran sebagai:
-
Pelatih di sekolah atau klub daerah
-
Pembina cabang olahraga tertentu
-
Mentor bagi atlet muda
Dengan begitu, pengalaman mereka tetap bermanfaat dan menjadi sumber penghasilan tetap.
2. Penempatan sebagai Tenaga Honorer atau Pegawai di Lingkungan Pemerintah
Sebagai bentuk penghargaan atas jasa, peluang kerja di instansi pemerintah daerah bisa menjadi solusi, tentu sesuai kompetensi yang dimiliki.
Ini memberi stabilitas ekonomi sekaligus pengakuan resmi atas kontribusi mereka.
3. Bantuan Modal Usaha
Jika atlet memiliki minat berwirausaha, dukungan modal usaha atau fasilitasi perizinan bisa diberikan agar mereka mandiri secara ekonomi.
Pendekatan ini mendorong keberlanjutan, bukan sekadar bantuan sesaat.
4. Jaminan Kesehatan dan Dukungan Sosial
Banyak mantan atlet memiliki cedera lama. Karena itu, akses layanan kesehatan dan pendampingan menjadi bagian penting dari apresiasi nyata.
Penghargaan bukan hanya berupa uang, tetapi rasa aman di masa tua.
5. Pengakuan Simbolik dan Moral
Selain pekerjaan, pengakuan publik juga penting. Mengundang mereka dalam acara resmi, memberi penghargaan daerah, atau menyebut jasa mereka secara terbuka dapat mengembalikan martabat dan kebanggaan.
Karena yang sering menyakitkan bukan hanya soal ekonomi, tetapi rasa dilupakan.
Prinsipnya: Prestasi Tidak Boleh Berakhir dengan Kesulitan
Gerakan KDM Bantu Atlet Terlantar menegaskan bahwa keberhasilan seorang atlet adalah investasi daerah. Maka setelah masa aktif berakhir, mereka tetap bagian dari ekosistem olahraga.
Masa depan mereka tidak boleh bergantung pada keberuntungan, tetapi pada sistem yang menghargai jasa.
Kesimpulan
Bentuk apresiasi yang ditawarkan meliputi penempatan sebagai pelatih atau pembina olahraga, peluang kerja di lingkungan pemerintah, bantuan modal usaha, jaminan kesehatan, serta penghargaan moral secara terbuka.
Karena pahlawan olahraga bukan hanya milik masa lalu.
Mereka adalah inspirasi masa depan.
Dan negara yang menghargai jasanya akan melahirkan generasi atlet baru yang lebih percaya diri dan berani bermimpi besar.
Baca juga jurnal sebelumnya!

