spot_img
Wednesday, February 18, 2026
More
    spot_img
    HomeArtikelDi Jalan yang Hampir Renggut Masa Depan: Saat KDM Hentikan Anak SD...

    Di Jalan yang Hampir Renggut Masa Depan: Saat KDM Hentikan Anak SD Bawa Motor dan Mengingatkan Kita Tentang Tanggung Jawab Orang Tua

    -

    Pagi itu terlihat biasa saja. Jalan desa ramai oleh aktivitas sekolah. Anak-anak berseragam berangkat dengan wajah setengah mengantuk, setengah bersemangat. Tapi di antara keramaian itu, ada pemandangan yang membuat Dedi Mulyadi langsung menghentikan langkah: seorang anak SD mengendarai motor sendirian.

    Tubuhnya kecil. Helmnya kebesaran. Motornya terlalu berat untuk ukuran tangannya.

    Bagi sebagian orang, ini mungkin sudah dianggap biasa. “Namanya juga desa.” “Biar cepat sampai sekolah.” “Orang tua sibuk kerja.” Alasan-alasan itu sering terdengar. Tapi KDM melihatnya dari sudut yang berbeda: ini bukan soal kebiasaan — ini soal risiko nyawa.

    Anak itu tidak dimarahi. Ia dihentikan dengan tenang. Diajak bicara. Ditanya sekolahnya di mana. Lalu diantar pulang. Teguran keras justru diberikan kepada orang tuanya.

    Bukan untuk mempermalukan. Tapi untuk menyadarkan.

    Bahaya yang kita anggap sepele

    Statistik kecelakaan lalu lintas menunjukkan satu pola yang berulang: pengendara di bawah umur memiliki risiko kecelakaan jauh lebih tinggi. Bukan karena mereka nakal, tapi karena refleks, emosi, dan kemampuan mengambil keputusan mereka belum matang.

    Motor bukan mainan. Jalan raya bukan arena belajar coba-coba.

    Ketika orang tua membiarkan anak SD membawa kendaraan, mereka sebenarnya sedang mempertaruhkan sesuatu yang tidak bisa diganti: masa depan anak itu sendiri.

    Dan yang paling tragis, banyak kecelakaan terjadi hanya beberapa ratus meter dari rumah.

    Budaya “biasa saja” yang berbahaya

    Masalah terbesar bukan kurangnya aturan. Aturan sudah jelas: anak di bawah umur tidak boleh mengemudi. Masalahnya adalah normalisasi pelanggaran.

    Ketika satu anak membawa motor, anak lain ikut. Lama-lama seluruh lingkungan menganggap itu wajar. Tekanan sosial bekerja lebih kuat daripada hukum.

    KDM memahami bahwa menegur satu anak berarti menegur budaya yang sudah lama dibiarkan tumbuh.

    Karena itu pendekatannya bukan sekadar menghentikan pelanggaran, tapi membangun kesadaran kolektif. Ia berbicara kepada orang tua, warga sekitar, dan bahkan anak-anak lain yang menyaksikan. Pesannya sederhana: sayang anak bukan berarti memberi kebebasan tanpa batas, tapi melindungi mereka dari bahaya yang belum mereka pahami.

    Tanggung jawab orang tua tidak bisa dipindahkan

    Sering kali orang tua beralasan tidak punya pilihan transportasi. Jarak sekolah jauh. Angkutan umum tidak ada. Ojek mahal. Waktu kerja mepet.

    Semua alasan itu valid. Tapi risiko kecelakaan tetap lebih besar.

    KDM menekankan bahwa solusi harus dicari tanpa mengorbankan keselamatan anak. Kreativitas orang tua jauh lebih penting daripada kenyamanan sesaat.

    Mengantar anak ke sekolah bukan beban. Itu investasi emosional. Perjalanan singkat itu sering menjadi ruang percakapan yang tidak tergantikan. Anak merasa diperhatikan. Orang tua memahami dunia anaknya.

    Keselamatan lahir dari kebiasaan kecil yang diulang setiap hari.

    Membangun sistem, bukan hanya menegur individu

    Masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan satu teguran. Ia membutuhkan solusi komunitas.

    Lingkungan sekolah bisa membentuk kelompok antar-jemput bersama. Orang tua bergiliran mengantar beberapa anak sekaligus. Desa bisa mengorganisir kendaraan kolektif sederhana. Bahkan berjalan kaki bersama dalam kelompok lebih aman daripada anak mengendarai motor sendirian.

    KDM sering menekankan pendekatan gotong royong: masalah sosial diselesaikan secara sosial.

    Ketika komunitas bergerak, beban individu menjadi ringan.

    Anak-anak butuh perlindungan, bukan pembuktian keberanian

    Ada kebanggaan semu ketika anak bisa mengendarai motor lebih cepat dari teman-temannya. Itu sering dianggap tanda kemandirian. Padahal kemandirian sejati bukan soal kecepatan, tapi kedewasaan.

    Anak tidak perlu membuktikan apa-apa di jalan raya.

    Masa kecil seharusnya diisi belajar, bermain, dan tumbuh aman — bukan menguji keberuntungan di tikungan.

    Tindakan KDM mengantar anak itu pulang adalah simbol perlindungan. Ia menunjukkan bahwa orang dewasa punya kewajiban moral menjaga anak-anak dari keputusan yang belum bisa mereka nilai risikonya.

    FAQ

    Solusi transportasi apa yang disarankan KDM kepada orang tua agar anak-anak tidak lagi dilepas membawa motor sendiri ke sekolah?

    Solusi yang ditekankan adalah pendekatan kolektif dan preventif. Orang tua disarankan membentuk sistem antar-jemput bergiliran, menggunakan kendaraan bersama antar keluarga, atau memanfaatkan transportasi komunitas yang dikelola desa. Jika jarak memungkinkan, anak bisa berjalan kaki dalam kelompok agar lebih aman. Intinya, keselamatan anak harus menjadi prioritas utama, dan solusi dicari melalui kerja sama sosial, bukan dengan memberi kendaraan kepada anak di bawah umur.

    Penutup

    Peristiwa kecil di jalan desa itu sebenarnya cermin besar. Ia memperlihatkan bagaimana keselamatan anak sering dikalahkan oleh kenyamanan orang dewasa.

    KDM tidak hanya menghentikan motor. Ia menghentikan kebiasaan yang berpotensi merenggut masa depan.

    Karena anak-anak tidak butuh keberanian mengendarai kendaraan. Mereka butuh orang dewasa yang cukup berani untuk berkata: belum waktunya.

    Dan keberanian terbesar orang tua adalah melindungi, bahkan ketika itu terasa tidak praktis.

    Baca juga artikel sebelumnya!

    Di Balik Papan Tulis Usang: Saat KDM Mengetuk Pintu Rumah Guru Honorer dan Mengingatkan Kita Arti Pengabdian

    Related articles

    Stay Connected

    0FansLike
    0FollowersFollow
    0FollowersFollow
    0SubscribersSubscribe
    spot_img

    Latest posts