spot_img
Wednesday, February 4, 2026
More
    spot_img
    HomeArtikelBukan Jas, Tapi Iket Kepala! Simbol Perlawanan Kang Dedi Mulyadi Terhadap Budaya...

    Bukan Jas, Tapi Iket Kepala! Simbol Perlawanan Kang Dedi Mulyadi Terhadap Budaya Politik Kaku di Jawa Barat

    -

    Dalam politik, pakaian jarang dianggap sebagai pesan. Padahal sering kali, pakaian adalah pidato paling jujur yang tidak pernah diucapkan. Ia berbicara sebelum mikrofon menyala. Ia membentuk persepsi sebelum program kerja dipaparkan. Dan dalam konteks Jawa Barat, gaya berpakaian Kang Dedi Mulyadi telah menjadi bahasa politik tersendiri.

    Ketika banyak pejabat berlomba terlihat formal dengan jas rapi dan dasi simetris, Dedi Mulyadi memilih iket kepala dan busana adat Sunda. Pilihan itu bukan kebetulan. Ia adalah pernyataan. Sebuah sikap bahwa identitas lokal tidak perlu disimpan di museum, tetapi bisa dibawa ke ruang kekuasaan tanpa rasa minder.

    Di tengah budaya politik yang sering terasa kaku dan seragam, gaya nyentrik Dedi Mulyadi justru terasa segar. Ia memecah monoton. Ia mengingatkan bahwa kekuasaan tidak harus selalu tampil dalam wajah yang asing bagi rakyatnya.

    Identitas Sunda sebagai Fondasi Kepemimpinan

    Banyak pemimpin berusaha terlihat modern dengan menanggalkan akar budayanya. Dedi Mulyadi melakukan kebalikannya. Ia membawa identitas Sunda ke ruang publik dengan percaya diri. Iket kepala bukan sekadar aksesoris. Ia adalah simbol keterhubungan dengan tanah, bahasa, dan nilai yang membentuk masyarakat Jawa Barat.

    Dalam konteks ini, identitas Sunda bukan nostalgia romantis. Ia adalah strategi sosial. Ketika pemimpin tampil dengan simbol budaya lokal, jarak psikologis dengan rakyat mengecil. Warga tidak melihat pejabat sebagai figur jauh di atas, tetapi sebagai bagian dari komunitas yang sama.

    Budaya Jawa Barat selama ini dikenal kaya akan nilai kesopanan, kebersahajaan, dan penghormatan terhadap alam. Ketika nilai-nilai ini tercermin dalam simbol yang dikenakan pemimpin, pesan yang disampaikan menjadi lebih kuat daripada sekadar slogan pembangunan.

    Gaya Nyentrik yang Menjadi Konsistensi

    Yang membuat gaya Dedi Mulyadi kuat bukan karena ia unik, tetapi karena ia konsisten. Banyak politisi memakai pakaian adat hanya saat kampanye atau upacara tertentu. Setelah itu kembali ke pakaian formal standar. Konsistensi Kang Dedi mengubah persepsi: ini bukan kostum, ini identitas.

    Konsistensi menciptakan kredibilitas. Dalam psikologi publik, simbol yang diulang terus-menerus akan melekat sebagai karakter. Lama-kelamaan, masyarakat tidak lagi melihat iket kepala sebagai gaya nyentrik, melainkan sebagai bagian alami dari dirinya.

    Ini penting dalam politik. Rakyat lebih percaya pada pemimpin yang terlihat utuh, bukan yang berganti wajah sesuai panggung.

    Perlawanan Halus terhadap Budaya Politik Kaku

    Politik Indonesia masih sering terjebak pada simbol formalitas. Gedung besar, pakaian resmi, bahasa birokratis. Semua itu menciptakan jarak. Dedi Mulyadi memilih melakukan perlawanan halus terhadap budaya ini.

    Dengan tetap mempertahankan busana adat Sunda, ia menyampaikan bahwa kekuasaan tidak harus kehilangan akar budaya. Modernisasi tidak harus berarti westernisasi total. Ada ruang untuk tradisi hidup berdampingan dengan administrasi negara.

    Perlawanan ini tidak berisik. Tidak revolusioner dalam arti dramatis. Tetapi justru karena halus, ia efektif. Ia menggeser standar tanpa memicu konflik.

    Pesan Psikologis bagi Generasi Muda

    Generasi muda Jawa Barat tumbuh di tengah arus globalisasi yang kuat. Banyak yang merasa budaya lokal kurang relevan dengan dunia modern. Kehadiran figur publik yang bangga mengenakan simbol adat memberikan pesan penting: identitas tidak menghalangi kemajuan.

    Sebaliknya, identitas bisa menjadi sumber kekuatan. Anak muda melihat bahwa seseorang bisa modern, berpendidikan, aktif di ruang politik nasional, tanpa meninggalkan akar budayanya.

    Dalam jangka panjang, ini adalah investasi budaya. Pemimpin tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun rasa percaya diri kolektif.

    Antara Simbol dan Substansi

    Tentu saja, simbol tidak boleh berdiri tanpa substansi. Pakaian adat tidak otomatis membuat kebijakan menjadi baik. Namun simbol memiliki fungsi membuka pintu perhatian publik. Setelah perhatian hadir, substansi harus mengikutinya.

    Dedi Mulyadi memahami keseimbangan ini. Gaya berpakaian hanyalah pintu masuk. Yang membuatnya relevan adalah bagaimana ia mengaitkan simbol budaya dengan kebijakan sosial, pendidikan, dan pembangunan yang menyentuh masyarakat.

    Ketika simbol selaras dengan tindakan, wibawa terbentuk secara alami. Bukan karena jabatan, tetapi karena konsistensi antara citra dan perilaku.

    Budaya sebagai Soft Power Politik

    Dalam ilmu politik modern, budaya sering disebut sebagai soft power. Ia tidak memaksa, tetapi memengaruhi. Ia tidak mengancam, tetapi menarik simpati.

    Gaya nyentrik Dedi Mulyadi adalah bentuk soft power yang efektif. Ia membuat politik terasa lebih manusiawi. Lebih dekat. Lebih bisa dipahami oleh masyarakat luas.

    Di tengah ketidakpercayaan publik terhadap elite politik, pendekatan budaya menawarkan jalan alternatif: membangun hubungan emosional, bukan hanya administratif.

    FAQ

    Apakah menurut Anda gaya berpakaian Kang Dedi yang tetap mempertahankan adat Sunda memberikan wibawa lebih bagi seorang Gubernur?

    Ya, karena wibawa tidak semata-mata berasal dari formalitas, tetapi dari konsistensi identitas dan kepercayaan diri. Ketika seorang pemimpin tampil autentik dan nyaman dengan akar budayanya, publik melihat ketegasan karakter.

    Gaya berpakaian adat Sunda yang dipertahankan Kang Dedi menciptakan kesan kedekatan sekaligus keteguhan. Ia menunjukkan bahwa modernitas tidak harus menghapus tradisi. Dalam konteks kepemimpinan, kombinasi ini justru memperkuat legitimasi moral di mata masyarakat.

    Penutup

    Politik sering dianggap panggung sandiwara penuh kostum. Namun ada perbedaan besar antara kostum dan identitas. Kostum dipakai untuk peran sementara. Identitas dipakai seumur hidup.

    Iket kepala Kang Dedi Mulyadi bukan kostum. Ia adalah pernyataan bahwa budaya Jawa Barat tidak berada di belakang kemajuan, tetapi berjalan di sampingnya. Dalam dunia politik yang semakin seragam, keberanian mempertahankan identitas justru menjadi bentuk kepemimpinan.

    Dan mungkin di situlah letak wibawanya: bukan pada jas yang rapi, tetapi pada keberanian menjadi diri sendiri di ruang kekuasaan.

    Baca juga artikel sebelumnya!

    Revolusi Transparansi Dedi Mulyadi: Instruksikan Seluruh Kades di Jabar Laporkan Anggaran via Media Sosial

    Related articles

    Stay Connected

    0FansLike
    0FollowersFollow
    0FollowersFollow
    0SubscribersSubscribe
    spot_img

    Latest posts