Kepemimpinan Humanis ala Dedi Mulyadi: Dekat, Tulus, dan Penuh Keteladanan
Dedi Mulyadi dikenal sebagai pemimpin yang berbeda. Ia bukan tipe pemimpin yang lebih banyak berada di balik meja kantor atau sibuk dengan protokol, melainkan sosok yang turun langsung ke lapangan, hadir di tengah masyarakat, dan menyelesaikan persoalan dengan cara paling manusiawi. Gaya kepemimpinannya sering disebut sebagai “kepemimpinan humanis”—pemimpin yang membangun kedekatan emosional, bukan sekadar administratif.
Berikut adalah karakter kuat kepemimpinan humanis ala Dedi Mulyadi.
1. Turun Langsung ke Warga Tanpa Birokrasi Berbelit
Dedi hampir tidak pernah membiarkan laporan warga menumpuk. Ia lebih suka datang langsung:
ke rumah warga yang sedang kesulitan,
ke kampung yang butuh bantuan,
ke lokasi konflik,
ke pasar,
ke jalanan,
bahkan ke hutan dan pinggir sungai.
Ia percaya bahwa pemimpin harus melihat sendiri masalah warga, bukan hanya membaca laporan di atas kertas.
2. Mengutamakan Dialog dan Pendekatan Hati
Dalam setiap pertemuan, Dedi selalu memulai dengan obrolan ringan. Ia mencoba membuat warga rileks terlebih dahulu sebelum masuk ke persoalan utama. Pendekatan ini membuat masyarakat merasa dihargai sebagai manusia, bukan objek program pemerintah.
Ia jarang menggunakan bahasa politik; ia menggunakan bahasa keseharian yang hangat dan merakyat.
3. Membantu Tanpa Membedakan Siapa yang Dibantu
Dedi terkenal membantu siapa saja yang ia temui di lapangan:
orang miskin,
warga sakit,
pedagang kecil,
pekerja informal,
anak putus sekolah,
hingga pemulung.
Baginya, bantuan tidak boleh melihat status. Yang penting adalah kemanusiaannya.
4. Menyelesaikan Masalah dengan Cepat dan Nyata
Tidak jarang ia menyelesaikan masalah di tempat. Jika ada rumah roboh, ia segera menginstruksikan perbaikan. Jika ada warga sakit, ia langsung mengurus rumah sakit. Jika ada sampah menumpuk, ia ikut membantu membersihkan.
Kepemimpinan seperti ini membuat warga percaya bahwa pemerintah benar-benar hadir untuk mereka.
5. Selalu Memberi Teladan Lewat Perbuatan
Bagi Dedi, pemimpin tidak boleh hanya memerintah. Ia harus memberi contoh. Itulah sebabnya:
ia ikut menanam pohon,
mengangkat sampah,
membantu menggotong barang warga,
menertibkan lingkungan,
dan bekerja bersama masyarakat.
Keteladanan inilah yang membuat warga mengikuti, bukan karena diperintah, tetapi karena tergerak.
6. Melibatkan Budaya dan Kearifan Lokal dalam Setiap Tindakan
Humanisme Dedi tidak berdiri sendiri, tetapi berpadu dengan budaya Sunda yang ia junjung. Nilai seperti:
someah ka semah (ramah kepada siapa pun),
silih asah, silih asih, silih asuh,
gotong royong,
ngajaga lembur (menjaga kampung),
menjadi dasar ia mengambil keputusan.
7. Kepemimpinan yang Mengubah Mental Warga
Dengan gaya kepemimpinan seperti ini, masyarakat merasa:
lebih peduli satu sama lain,
ikut menjaga lingkungan,
berani melapor tanpa takut,
nyaman berinteraksi dengan pemimpinnya.
Ia menghilangkan jarak antara rakyat dan pemimpin. Bagi banyak orang, Dedi bukan hanya pejabat, tetapi sahabat yang peduli.

