Di era digital, tidak banyak politisi yang mampu memanfaatkan media sosial secara konsisten, natural, dan berdampak. Namun nama Dedi Mulyadi menjadi pengecualian. Dalam beberapa tahun terakhir, ia menjelma menjadi salah satu tokoh politik dengan engagement tertinggi di platform seperti Facebook, YouTube, dan TikTok. Bukan karena drama politik, melainkan karena konten kemanusiaan yang ia sajikan.
1. Konsistensi Konten Kemanusiaan
Berbeda dari politisi lain yang cenderung memposting kegiatan formal atau pencitraan lewat proyek pemerintah, konten Dedi justru menghadirkan realitas masyarakat yang jarang tersorot.
Ia merekam:
kondisi lansia terlantar,
keluarga miskin tanpa akses pendidikan,
pekerja kecil yang kesulitan bertahan hidup,
hingga anak-anak yang butuh perhatian khusus.
Konten-konten inilah yang membangun citra barunya, yaitu “pejabat berhati rakyat”, meski ia sudah tidak menjabat.
2. Gaya Komunikasi yang Tidak Menggurui
Dedi tidak hadir sebagai penguasa, tapi sebagai “tetangga”. Bahasanya sederhana, ceplas-ceplos, tapi justru itulah yang membuat pesan-pesannya kuat.
Ketika berbicara dengan warga, ia:
bertanya dengan lembut,
tidak menyalahkan,
tidak menghakimi,
dan lebih fokus memberi solusi daripada memberi ceramah.
Gaya ini membuat penontonnya merasa dekat, seolah ia memberi suara kepada mereka yang tak pernah didengar.
3. Kritik: “Pencitraan” atau “Kemanusiaan”?
Karena sering viral, muncul tuduhan bahwa apa yang dilakukan Dedi hanyalah pencitraan untuk tujuan politik. Namun para pendukungnya membantah dengan fakta bahwa aktivitas sosialnya sudah dilakukan jauh sebelum ia aktif bermedia sosial.
Perdebatan ini terus terjadi:
pihak yang pro melihatnya sebagai aktivis kemanusiaan,
pihak yang kontra menganggapnya aktor politik populis.
Namun terlepas dari pro-kontra, pengaruh kontennya tidak dapat dipungkiri.
4. Efek Sosial: Banyak Warga yang Terbantu
Salah satu dampak paling nyata adalah peningkatan donasi dan kepedulian sosial dari masyarakat yang mengikuti kegiatannya. Banyak penonton yang tergerak membantu, baik secara langsung ke warga yang disorot, maupun melalui komunitas kemanusiaan.
Fenomena ini menjadikan Dedi bukan hanya sosok politik, tetapi juga penggerak solidaritas publik.
5. Kesimpulan Bab Ini
Peran Dedi di media sosial bukan sekadar personal branding, melainkan gerakan sosial yang membuat jutaan orang menyadari betapa banyak kehidupan yang luput dari perhatian negara. Ia menjadi jembatan antara rakyat kecil dan masyarakat luas yang ingin membantu tetapi tidak tahu caranya.

