Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan media sosial menjadi salah satu kekuatan terbesar yang mendorong popularitas Dedi Mulyadi meningkat pesat. Jika dulu seorang tokoh politik hanya dikenal lewat televisi, baliho, atau kegiatan formal, kini Dedi membuktikan bahwa pemimpin yang dekat dengan rakyat dapat lebih mudah dikenal melalui dunia digital. Cara ia memanfaatkan platform seperti YouTube, Instagram, Facebook, dan TikTok bukan hanya efektif, tetapi juga memiliki ciri khas yang membedakannya dari tokoh lain.
Salah satu hal yang paling menonjol adalah keotentikan kontennya. Dedi tidak menampilkan pencitraan berlebihan, tidak memaksakan editing mewah, dan tidak membuat konten yang hanya mengejar sensasi. Justru ia tampil apa adanya: berjalan menemui orang miskin, membantu pedagang kecil, bercanda dengan anak-anak, atau berdialog dengan warga desa. Kesederhanaan ini membuat banyak orang merasa konten tersebut bukan sekadar “konten politisi”, melainkan dokumentasi nyata kehidupan sosial di Jawa Barat dan sekitarnya.
Media sosial juga memberinya ruang untuk menjangkau masyarakat tanpa batasan jarak. Bahkan orang yang tidak tinggal di Purwakarta atau Jawa Barat sekalipun kini mengenal Dedi melalui video-video kemanusiaannya. Setiap unggahan yang menampilkan cara ia menangani masalah secara langsung — entah itu memperbaiki rumah warga, membantu pedagang keliling, atau menengahi konflik kecil — memberikan kesan kuat tentang kepeduliannya. Dengan begitu, media sosial menjadi jembatan yang mempertemukan persoalan rakyat kecil dengan seorang tokoh yang mau mendengarkan.
Selain itu, algoritma media sosial membantu menyebarkan pesan Dedi lebih cepat. Konten-kontennya yang menyentuh emosi sering kali masuk rekomendasi dan dibagikan ribuan kali. Komentar-komentar positif pun berdatangan, mulai dari anak muda hingga orang tua, yang merasa relate dengan nilai-nilai sederhana seperti gotong royong, empati, dan kejujuran. Inilah kekuatan besar yang membuat pengaruh digital Dedi tidak hanya sekadar besar, tetapi juga konsisten.
Yang menarik, Dedi menggunakan media sosial bukan hanya untuk “tampil”, tetapi juga untuk menyelesaikan masalah. Banyak warga sengaja menghubunginya melalui DM, kolom komentar, atau mention ketika membutuhkan bantuan. Tidak sedikit kasus yang ditangani Dedi berawal dari laporan netizen, dan ini memperlihatkan bagaimana media sosial dapat menjadi ruang pelayanan publik alternatif. Ini menjadikannya berbeda dari politisi lain yang hanya memanfaatkan media sosial untuk kampanye atau pencitraan.
Dengan pendekatan yang sederhana, jujur, dan penuh kepedulian, media sosial telah memperkuat kedekatan Dedi dengan masyarakat sekaligus membangun citra bahwa ia adalah pemimpin yang turun langsung, responsif terhadap masalah, dan mampu hadir di tengah-tengah rakyat meski melalui laya
r ponsel.

