Salah satu alasan mengapa sosok Dedi Mulyadi begitu dekat di hati masyarakat adalah gaya komunikasinya yang sederhana dan mudah dipahami. Di tengah dunia politik yang sering dipenuhi istilah teknis, pidato formal, dan bahasa rumit, Dedi hadir seperti angin segar dengan tutur kata yang apa adanya. Ia tidak berusaha membangun jarak dengan masyarakat melalui bahasa yang sulit, justru ia sengaja menurunkan pilihan kata agar semua kalangan, mulai dari petani, pedagang kecil, hingga pelajar, bisa menangkap maksudnya tanpa harus berpikir keras.
Dalam setiap kesempatan — baik saat turun ke lapangan, membuat konten YouTube, berbicara di forum resmi, maupun berdialog spontan dengan warga — Dedi selalu memilih bahasa yang akrab di telinga orang Sunda dan masyarakat Jawa Barat pada umumnya. Ia menggunakan perumpamaan sehari-hari, humor ringan, bahkan gaya bicara kampung yang membuat suasana menjadi cair. Pendekatan seperti ini bukan hanya membuat orang nyaman, tetapi juga menciptakan rasa dihargai. Masyarakat tidak merasa sedang mendengarkan “pejabat”, melainkan seperti mendengar kakak atau orang tua sendiri yang sedang memberikan nasihat.
Lebih jauh lagi, gaya komunikasi sederhana itu bukan sekadar strategi, melainkan bagian dari identitas Dedi yang selalu ingin membangun kedekatan emosional. Ia memahami bahwa pesan yang baik tidak akan sampai jika disampaikan dengan bahasa yang salah. Oleh karena itu, ketika menjelaskan kebijakan, memberikan kritik, atau menyampaikan solusi, ia mengemasnya secara runtut, jujur, dan tanpa basa-basi berlebihan. Inilah yang membuat konten-konten Dedi Mulyadi sering viral: bukan karena sensasi, tetapi karena kejujuran tutur katanya.
Cara berkomunikasi yang membumi seperti ini memiliki dampak besar. Banyak masyarakat yang merasa seolah-olah Dedi sedang membela mereka secara langsung. Ketika ia memberikan masukan kepada warga, misalnya pedagang yang sulit mendapat izin, atau petani yang kesulitan modal, ia menjelaskan persoalan dan solusinya dengan contoh nyata, bukan teori. Pendekatan ini memperkuat kepercayaan publik dan membuat masyarakat merasa aman untuk bercerita apa adanya tanpa takut dihakimi.
Di saat sebagian politisi menggunakan kata-kata yang terlalu tinggi atau sekadar slogan kosong, Dedi memilih tetap menjadi dirinya: sederhana, jelas, dan menyentuh hati. Inilah salah satu kekuatan besar yang membentuk citra Dedi Mulyadi sebagai pemimpin dekat rakyat, bukan sekadar pejabat formal.

