Kesederhanaan bukan hanya soal penampilan atau gaya hidup, tetapi cara seseorang memaknai hidup dan memandang manusia lain. Filosofi inilah yang selama bertahun-tahun melekat pada sosok Kang Dedi Mulyadi, tokoh Jawa Barat yang dikenal karena kedekatannya dengan masyarakat kecil, budayanya yang kuat, dan caranya berbicara yang selalu menyejukkan.
Dalam berbagai kesempatan, Kang Dedi menunjukkan bahwa pemimpin bukanlah ia yang berdiri tinggi, melainkan ia yang mau duduk serendah mungkin bersama orang-orang yang membutuhkan. Kita sering melihat bagaimana ia menemui warga tanpa protokol rumit, menyapa pedagang kecil, membantu anak-anak, hingga terjun langsung ke pelosok kampung yang jarang tersentuh.
Kesederhanaannya tidak dibuat-buat. Ia hadir apa adanya: memakai pakaian khas Sunda, tersenyum hangat, dan berbicara dengan tutur lembut yang mudah dipahami siapa saja. Banyak orang merasa bahwa ketika Kang Dedi berbicara, ada ketulusan yang mengalir dan menyentuh hati. Bukan karena ia sedang tampil di depan kamera, tetapi karena itu memang wataknya sejak lama.
Lebih dari itu, filosofi kesederhanaan Kang Dedi juga tercermin dalam caranya melihat permasalahan. Ia tidak pernah menilai warga dari penampilan atau latar belakang. Baginya, manusia adalah manusia — makhluk yang patut dihargai, didengar, dan dibantu tanpa syarat. Pemikiran ini membuatnya dicintai oleh berbagai kalangan, dari masyarakat desa sampai anak-anak muda yang terinspirasi oleh sikapnya.
Kang Dedi percaya bahwa kemajuan tidak selalu harus berwujud bangunan megah atau proyek besar. Bagi beliau, kemajuan sejati adalah ketika manusia merasa diperhatikan, dihargai, dan bisa hidup dengan tenang. Dan cara terbaik mencapainya adalah lewat pendekatan budaya, gotong royong, serta kepedulian nyata.
Filosofi kesederhanaan seperti inilah yang membuat Kang Dedi Mulyadi bukan hanya dilihat sebagai tokoh publik, tapi sebagai sosok keluarga: yang menegur dengan lembut, membimbing dengan bijak, dan selalu hadir ketika masyarakat membutuhkan.

