Pendahuluan
Dalam era modern yang serba individualistis, semangat gotong royong mulai memudar di tengah masyarakat. Banyak orang lebih memilih hidup mandiri tanpa terlibat dalam kegiatan sosial. Namun, di tengah perubahan itu, muncul sosok Kang Dedi Mulyadi yang dengan konsistensi dan ketulusannya berusaha menghidupkan kembali nilai gotong royong sebagai jati diri bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Sunda.
Bagi Dedi, gotong royong bukan hanya sekadar kerja bakti atau kegiatan sosial, tetapi sebuah filosofi hidup yang menumbuhkan rasa kebersamaan, empati, dan cinta terhadap sesama. Ia percaya bahwa kemajuan tidak akan berarti jika masyarakat kehilangan semangat saling membantu.
Gotong Royong Sebagai Akar Budaya Sunda
Dalam budaya Sunda, gotong royong dikenal dengan istilah “silih asah, silih asih, silih asuh” — saling mengajarkan, saling menyayangi, dan saling membimbing. Prinsip ini menjadi dasar hubungan sosial yang kuat di masyarakat tradisional. Dedi Mulyadi berusaha mengembalikan nilai itu dalam konteks kehidupan modern yang semakin individualis.
Ia sering menekankan bahwa gotong royong bukan sesuatu yang kuno, tetapi justru solusi untuk menjaga harmoni sosial di tengah perkembangan zaman.
Menghidupkan Gotong Royong Lewat Kebijakan Nyata
Sebagai pemimpin, Dedi tidak hanya berbicara tentang pentingnya gotong royong, tetapi juga menerapkannya dalam kebijakan nyata. Saat menjabat sebagai Bupati Purwakarta, ia menciptakan berbagai program yang melibatkan masyarakat secara langsung dalam pembangunan, seperti Program Bedah Kampung, Taman Masyarakat Desa, dan Gerakan Menanam Pohon Bersama.
Dalam setiap program, ia tidak ingin pemerintah bekerja sendirian. Dedi selalu melibatkan warga agar mereka merasa memiliki hasil pembangunan tersebut. Menurutnya, pembangunan yang dilakukan bersama akan lebih bermakna daripada yang hanya dilakukan oleh pemerintah.
Teladan Melalui Tindakan Nyata
Salah satu hal yang membuat Dedi Mulyadi disegani adalah keteladanannya. Ia tidak segan turun langsung membantu masyarakat, bahkan dalam hal-hal kecil sekalipun. Ia kerap terlihat ikut menanam pohon, memungut sampah, atau memperbaiki jalan bersama warga.
Bagi Dedi, pemimpin sejati harus menjadi bagian dari masyarakat, bukan berdiri di atas mereka. Ia meyakini bahwa dengan memberi contoh nyata, masyarakat akan ikut terdorong untuk berbuat hal baik.
Gotong Royong di Tengah Modernisasi
Dedi memahami bahwa masyarakat modern memiliki kesibukan dan pola hidup yang berbeda dibanding masa lalu. Karena itu, ia berusaha menyesuaikan semangat gotong royong agar tetap relevan.
Misalnya, ia mendorong kolaborasi digital antarwarga untuk membantu sesama, seperti menggalang dana secara online bagi korban bencana, membantu promosi UMKM lokal, atau membuat komunitas sosial berbasis internet.
Menurut Dedi, teknologi seharusnya tidak membuat manusia menjauh, tetapi justru menjadi sarana baru untuk memperkuat rasa kebersamaan.
Pendidikan Gotong Royong Sejak Dini
Dedi Mulyadi juga menekankan pentingnya menanamkan nilai gotong royong sejak usia muda. Ia percaya bahwa karakter sosial tidak bisa dibangun hanya lewat teori, tetapi lewat pengalaman langsung.
Di sekolah-sekolah di Purwakarta, ia memperkenalkan program “Sekolah Berkarakter Sunda” di mana siswa diajarkan pentingnya bekerja sama, membantu teman, dan menghormati guru.
Ia juga sering mengadakan kegiatan seperti kerja bakti sekolah, menanam pohon bersama, dan kunjungan sosial agar anak-anak terbiasa hidup saling peduli.
Membangun Solidaritas Sosial di Desa dan Kota
Baik di pedesaan maupun di perkotaan, Dedi selalu berusaha memperkuat solidaritas antarwarga. Ia melihat bahwa masyarakat kota cenderung lebih individualis, sementara masyarakat desa masih menjaga semangat kebersamaan.
Untuk menjembatani hal itu, ia menciptakan program “Ngariung Bareng Warga”, yaitu kegiatan di mana masyarakat dari berbagai latar belakang duduk bersama membahas masalah lingkungan dan sosial.
Dengan cara ini, ia ingin menunjukkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kesempatan untuk bekerja sama.
Gotong Royong dalam Perspektif Ekonomi dan Pembangunan
Selain aspek sosial, Dedi juga memaknai gotong royong sebagai strategi ekonomi. Ia mengajak masyarakat untuk saling mendukung produk lokal, membeli hasil karya tetangga, dan membentuk koperasi rakyat.
Ia percaya bahwa ekonomi rakyat akan kuat jika warganya saling menopang. Dengan semangat gotong royong, masyarakat desa bisa mandiri tanpa bergantung pada investor besar.
Filosofi “Ngabantu Tanpa Pamrih”
Bagi Dedi Mulyadi, gotong royong bukan tentang imbalan, tapi tentang keikhlasan. Ia sering berkata, “Mun batur seuri, urang oge kudu seuri. Mun batur sangsara, urang kudu ngarasa.” (Kalau orang lain tertawa, kita ikut senang. Kalau orang lain menderita, kita ikut peduli.)
Filosofi ini menjadi dasar dari semua tindakan sosialnya. Ia mengajarkan bahwa membantu orang lain bukan sekadar kewajiban, tapi juga bentuk kebahagiaan sejati.
Kesimpulan
Kang Dedi Mulyadi berhasil membuktikan bahwa gotong royong masih sangat relevan di zaman modern. Melalui keteladanan, kebijakan nyata, dan pendekatan budaya, ia menghidupkan kembali nilai-nilai kebersamaan yang mulai pudar.
Di tangan Dedi, gotong royong bukan sekadar slogan, tetapi menjadi gerakan sosial yang nyata dan berdampak luas.
Ia mengingatkan kita bahwa kemajuan sejati bukan hanya soal teknologi dan infrastruktur, tetapi juga tentang seberapa kuat kita menjaga rasa kemanusiaan dan solidaritas antar sesama.

